#film
#filmindo
#filmhoror
#filmaction
#filmhantu
#filmdrama
#hantu
#horor
#setan
#setankuntilanak
#filmpendek
#movie
#movies
#fullmovie
#fullmovies
#filmsetan
#filmindo
#filmhoror
#filmaction
#filmhantu
#filmdrama
#hantu
#horor
#setan
#setankuntilanak
#filmpendek
#movie
#movies
#fullmovie
#fullmovies
#filmsetan
Kategori
🎥
Film pendekTranskrip
00:00:00Di kanal ini, kami bukan sekadar menceritakan ulang kisah dari sebuah film.
00:00:05Kami menggali.
00:00:07Menyusuri tiap detail.
00:00:10Menelusuri jejak-jejak kecil yang barangkali luput oleh mata penonton biasa.
00:00:14Karena bagi kami, film bukan cuma hiburan.
00:00:17Ia adalah rekaman psikologis, sosial, bahkan spiritual dari apa yang tak bisa kita ucapkan secara langsung.
00:00:24Hari ini, kita menyelam ke dalam film horror terbaru rilisan MVP Pictures, Dia Bukan Ibu.
00:00:30Disutradarai oleh Randolph Zaini dan ditulis bersama penulis peraih dua piala citra, Titian Watimena,
00:00:35film ini bukan hanya menyajikan teror visual.
00:00:39Ia mempertanyakan satu hal yang paling fundamental dalam relasi keluarga.
00:00:43Bagaimana jika sosok ibu yang kau cintai, ternyata bukan lagi ibu yang kau kenal?
00:00:48Film ini diadaptasi dari sebuah track viral di Twitter X, yang pada tahun 2023 menyedot jutaan perhatian.
00:00:55Bukan karena kisahnya saja yang menyeramkan,
00:00:57tapi karena kedekatannya dengan pengalaman banyak orang yang diam-diam hidup dalam trauma keluarga.
00:01:03Dan cerita ini bermula, dari seorang gadis bernama Vira.
00:01:07Vira bukanlah gadis yang keras kepala.
00:01:10Ia tidak pernah melawan, meski dalam hatinya, ia tahu bahwa semua ini salah.
00:01:15Perceraian orang tuanya menyisakan luka.
00:01:17Lebih dari itu, ibunya mulai membuka usaha salon di bagian depan rumah.
00:01:22Di mata tetangga, ini mungkin terlihat sebagai upaya untuk bangkit dan mandiri.
00:01:26Tapi bagi Vira dan Dino, salon itu terasa terlalu sunyi.
00:01:31Tak banyak pelanggan datang, tapi ibu selalu tampak sibuk.
00:01:35Dan ketika malam datang, lampu salon kadang tetap menyala,
00:01:38disertai suara-suara aneh dari dalamnya.
00:01:41Denting logam, suara air, kadang seperti bisikan.
00:01:45Dalam catatan kami, perubahan perilaku seperti ini bisa memiliki banyak sebab.
00:01:49Secara psikologis, individu pasca perceraian bisa mengalami keinginan kuat untuk mengendalikan ulang hidup mereka.
00:01:56Tapi saat perubahan itu bersifat ekstrim dan tidak konsisten,
00:02:00di mana si subjek tampak dikuasai oleh versi dirinya yang bukan dirinya,
00:02:04maka patut dipertanyakan, apakah ini masih trauma?
00:02:07Atau ada intervensi entitas lain yang tak kasat mata?
00:02:11Suatu malam, Dino terbangun karena mendengar suara ketukan dari arah dapur.
00:02:16Ia pikir itu hanya suara tikus atau angin.
00:02:18Tapi ketika ia membuka pintu kamarnya dan berjalan menyusuri lorong gelap menuju dapur,
00:02:24ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.
00:02:27Ibunya, sedang berdiri diam di pojokan dapur, menghadap tembok.
00:02:31Tidak bergerak.
00:02:33Tidak bersuara.
00:02:35Hanya berdiri dalam posisi yang tidak wajar, tubuhnya kaku,
00:02:39dan tangannya menggenggam sesuatu yang tampak seperti potongan daging mentah.
00:02:42Dino memanggil pelan,
00:02:44Bu?
00:02:46Perempuan itu menoleh perlahan.
00:02:48Terlalu perlahan.
00:02:50Dan ketika wajahnya terlihat,
00:02:52Dino menyadari.
00:02:53Ekspresi itu, kosong.
00:02:56Matanya tidak hidup.
00:02:58Tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang membuat darah di tubuh anak itu membeku.
00:03:02Pagi harinya,
00:03:04ibu seperti tidak mengingat apa-apa.
00:03:06Ia hanya bilang mungkin ia mengigau.
00:03:09Tapi Dino tidak percaya.
00:03:10Dan Fira,
00:03:12mulai merasa bahwa semua yang terjadi sejak mereka pindah ke rumah ini bukan sekadar kebetulan.
00:03:17Ia mulai mencari jawaban.
00:03:19Fira menyadari,
00:03:21beberapa benda di rumah tidak berasal dari mereka.
00:03:24Ada boneka tua yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya.
00:03:28Ada kotak kecil berisi jarum pentul yang tertutup kain merah.
00:03:31Dan yang paling mencolok,
00:03:33lukisan di ruang tamu bergambar sosok perempuan tua berpakaian adat,
00:03:36dengan tatapan menusuk ke arah pintu masuk.
00:03:38Dino mulai menarik diri.
00:03:41Ia tak lagi banyak bicara dan lebih sering mengurung diri di kamar.
00:03:44Fira mencoba mengajaknya berbicara,
00:03:47tapi sang adik hanya mengatakan satu hal,
00:03:50lirih,
00:03:50nyaris tak terdengar,
00:03:52ibu bukan ibu.
00:03:54Malam-malam berikutnya,
00:03:55teror makin nyata.
00:03:57Saat Fira sedang menyisir rambut di kamarnya,
00:03:59lampu tiba-tiba mati.
00:04:02Dari selap pintu yang tak tertutup rapat,
00:04:04ia melihat bayangan tubuh ibunya melintas.
00:04:06Tapi anehnya,
00:04:07bayangan itu terlalu tinggi,
00:04:09dengan leher yang condong tidak lazim.
00:04:10Saat lampu kembali menyala,
00:04:13tak ada siapa-siapa di luar.
00:04:15Fira mengecek seluruh rumah.
00:04:18Ibu sedang tidur di kamarnya.
00:04:20Atau setidaknya,
00:04:22seseorang yang menyerupai ibunya sedang berbaring di ranjang itu.
00:04:26Keesokan harinya,
00:04:27Fira menemukan sebungkus kantong plastik hitam di belakang salon.
00:04:31Dalamnya berisi rambut manusia,
00:04:33potongan kuku,
00:04:34dan sisa-sisa bunga yang sudah membusuk.
00:04:37Fira membuangnya diam-diam,
00:04:38takut menimbulkan masalah.
00:04:41Tapi sejak hari itu,
00:04:42mimpi-mimpinya dipenuhi sosok perempuan tua bersanggul,
00:04:45mengenakan kebaya coklat,
00:04:47yang berdiri diam di kaki ranjang,
00:04:48hanya memandang tanpa bicara.
00:04:51Wajahnya retak,
00:04:52seperti topeng tanah liat yang hampir pecah.
00:04:55Satu-satunya orang dewasa yang Fira percaya adalah Buderetno,
00:04:58tetangga sebelah yang dikenal suka membantu orang dengan pengobatan tradisional.
00:05:03Suatu sore,
00:05:04Fira nekat datang dan menceritakan segalanya.
00:05:06Reaksi Buderetno membuatnya merinding.
00:05:10Wanita parubaya itu menatapnya lama,
00:05:12lalu menghembuskan napas berat.
00:05:14Kalau benar yang kamu lihat seperti itu,
00:05:16kamu harus cepat keluar dari rumah itu.
00:05:18Nak!
00:05:19Fira meminta penjelasan,
00:05:21tapi Buderetno hanya menyuruhnya waspada
00:05:23dan jangan sampai ditinggal sendirian oleh ibu.
00:05:25Kadang,
00:05:27yang kita kira sedang membantu kita,
00:05:29justru sedang menanam kita pelan-pelan,
00:05:31kata Retno.
00:05:33Kalimat yang tak dimengerti Fira sepenuhnya.
00:05:36Malam itu,
00:05:37Fira memutuskan berjaga.
00:05:39Ia tak tidur.
00:05:41Ia duduk di dekat kamar Dino,
00:05:43mendengarkan suara-suara.
00:05:45Pukul 2 dini hari,
00:05:46ia mendengar sesuatu dari salon.
00:05:49Seperti suara kursi yang diseret.
00:05:50Ia mengintip dari celah pintu,
00:05:53dan apa yang ia lihat akan menghantui ingatannya seumur hidup.
00:05:57Ibu,
00:05:57atau sesuatu yang menyerupainya,
00:05:59sedang berdiri membelakangi cermin besar.
00:06:02Di hadapannya duduk seorang perempuan muda,
00:06:04yang terlihat pingsan atau tertidur.
00:06:07Wajahnya pucat.
00:06:09Tubuhnya lunglai.
00:06:11Ibu mengangkat gunting,
00:06:13memotong rambut gadis itu tanpa ekspresi.
00:06:16Darah menetes dari ujung rambut,
00:06:17bukan dari kulit kepala,
00:06:18seolah rambut itu sendiri terluka.
00:06:22Ketika cermin memantulkan bayangan,
00:06:24Vira melihat sesuatu yang tak masuk akal.
00:06:26Refleksi ibunya di cermin berbeda.
00:06:29Wajah di dalam cermin itu lebih tua,
00:06:31dengan mata hitam pekat tanpa bola mata,
00:06:34dan senyum yang lebih lebar dari garis bibir manusia biasa.
00:06:37Vira mundur perlahan,
00:06:39menahan nafas.
00:06:41Ia tahu,
00:06:42mulai malam itu,
00:06:43ia bukan cuma sedang menyaksikan sesuatu yang tidak wajar.
00:06:45Ia sedang menjadi bagian dari sebuah ritual.
00:06:50Dan rumah itu,
00:06:51bukan sekadar tempat tinggal.
00:06:53Rumah itu altar.
00:06:55Dan ibunya,
00:06:56atau apapun yang kini berdiam dalam dirinya,
00:06:58adalah penjaga altar itu.
00:07:01Vira memutuskan menyelidiki lebih jauh.
00:07:04Ia tak bisa hanya berdiam.
00:07:06Ia mulai memeriksa salon secara diam-diam
00:07:08saat ibunya pergi membeli bahan.
00:07:10Di balik tumpukan handuk bersih dan lemari kaca
00:07:12tempat berbagai alat perawatan rambut disimpan,
00:07:15Vira menemukan sebuah kotak kayu kecil berukir.
00:07:18Terkunci rapat.
00:07:20Tapi bekas gosokan di sekitar kuncinya
00:07:22menunjukkan bahwa kotak itu sering dibuka tutup,
00:07:24dan entah kenapa,
00:07:26setiap kali Vira menyentuhnya,
00:07:27ia merasa seolah disentuh balik,
00:07:29seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
00:07:32Ia membawa kotak itu ke kamar,
00:07:34mencoba membukanya dengan penjepit rambut.
00:07:36Saat berhasil terbuka,
00:07:38aroma anjir langsung menyergap.
00:07:41Di dalamnya terdapat benda-benda
00:07:43yang tak pernah dilihatnya secara langsung sebelumnya.
00:07:45Boneka kecil terbuat dari kain percah,
00:07:47sejumput rambut manusia yang dikepang,
00:07:49dan cermin kecil yang seluruh permukaannya tertutup jelaga.
00:07:53Vira menyentuh cermin itu dengan ujung jari.
00:07:56Sepersekian detik kemudian,
00:07:58ia mendengar suara desisan,
00:08:00dan tiba-tiba lampu kamarnya berkedip-kedip.
00:08:03Ia menjatuhkan cermin itu,
00:08:04tapi sebelum cermin itu pecah,
00:08:06sebuah kilatan bayangan hitam melintas cepat di dinding kamar.
00:08:10Vira menangis dalam diam.
00:08:12Ia merasa dunia yang selama ini dikenalnya mulai runtuh.
00:08:16Dan yang paling menyesakan adalah,
00:08:18wajah ibunya kini tak lagi bisa ia percaya.
00:08:21Terkadang terlihat sangat lembut,
00:08:23penuh kasih,
00:08:24tapi di saat lain menjadi asing,
00:08:25kaku,
00:08:26dan dingin seperti patung.
00:08:28Puncaknya terjadi malam itu.
00:08:31Dino kembali mimpi buruk dan mengigau,
00:08:33berteriak-teriak dalam tidurnya sambil menyebut satu kalimat yang sama berulang kali.
00:08:37Dia bukan ibu,
00:08:38dia bukan ibu,
00:08:39dia bukan ibu.
00:08:41Vira memeluk Dino sambil gemetar.
00:08:44Mereka berdua tahu ada yang salah.
00:08:46Tapi tak ada tempat untuk pergi.
00:08:49Semua saudara menjauh setelah perceraian.
00:08:52Ayah mereka pun entah kemana,
00:08:54nomor ponselnya sudah tak aktif lagi sejak dua bulan lalu.
00:08:58Vira merasa terjebak.
00:08:59Dan seperti kisah-kisah horor yang dulu hanya ia baca di internet,
00:09:03kini ia sedang hidup dalam salah satunya.
00:09:06Di sekolah,
00:09:07Vira menjadi lebih pendiam.
00:09:09Ia mulai mencari tahu tentang gejala kesurupan,
00:09:12roh penunggu tubuh,
00:09:13dan segala sesuatu yang berkaitan dengan praktik penggantian jiwa atau pemanggilan arwah.
00:09:17Ia tak pernah percaya sebelumnya.
00:09:20Tapi kini,
00:09:21logika bukan lagi pegangan yang cukup.
00:09:24Salah satu artikel yang ia temukan menyebutkan tentang,
00:09:27ruatan bayangan,
00:09:28sebuah praktik kuno untuk memanggil makhluk penjaga agar merasuki tubuh orang yang dianggap sebagai pintu.
00:09:33Tubuh itu kemudian digunakan sebagai wadah,
00:09:36dan makhluk itu menyamar sebagai manusia sepenuhnya,
00:09:39meniru suara,
00:09:40perilaku,
00:09:41bahkan kenangan.
00:09:43Semua yang dibacanya seperti cocok dengan perilaku sang ibu.
00:09:45Bahkan lebih buruk,
00:09:48ada kemungkinan tubuh ibunya bukan lagi milik ibunya.
00:09:51Mungkin hanya cangkang kosong.
00:09:54Hari berikutnya,
00:09:56Vira menemukan sesuatu yang membuat darahnya membeku.
00:09:59Di ruang ria salon,
00:10:00tergantung di salah satu sisi rak,
00:10:02ia melihat foto perempuan muda yang pernah duduk di kursi salon malam itu.
00:10:06Rambutnya kini pendek,
00:10:08matanya kosong,
00:10:09wajahnya seolah baru sadar telah kehilangan sesuatu.
00:10:12Vira tak pernah melihatnya keluar dari rumah itu.
00:10:15Dan yang lebih mengerikan,
00:10:17foto itu kini dipajang berdampingan dengan foto-foto lain.
00:10:21Semua wajah perempuan muda,
00:10:22berbeda-beda,
00:10:24semuanya berambut pendek.
00:10:26Semuanya seperti memandang langsung pada Vira.
00:10:29Ia sadar,
00:10:30ibunya menyimpan trofi.
00:10:32Bukan dalam bentuk benda,
00:10:34tapi dalam bentuk jiwa.
00:10:36Dan rumah itu,
00:10:37sekali lagi,
00:10:38bukan rumah biasa.
00:10:39Vira kini harus memilih,
00:10:41diam dan bertahan,
00:10:43atau mencari jalan keluar,
00:10:44meski itu berarti harus menghadapi langsung sesuatu yang telah tinggal dalam ibunya.
00:10:49Suatu malam,
00:10:50saat hujan turun deras mengguyur perumahan mereka,
00:10:53Vira terbangun oleh suara langkah kaki.
00:10:55Tapi bukan dari luar kamar.
00:10:58Ia mendengar langkah itu berasal dari loteng,
00:11:00tempat yang sudah lama ditutup dan dikunci oleh ibunya sejak mereka pindah ke rumah ini.
00:11:05Awalnya ia mengira itu hanya suara angin,
00:11:07tapi denting kayu lantai yang tertekan tak bisa dibohongi.
00:11:11Ada seseorang,
00:11:12atau sesuatu di atas sana.
00:11:14Didorong rasa ingin tahu dan ketakutan yang semakin memuncak,
00:11:17Vira mengambil senter kecil dan kunci cadangan yang dulu ia curi dari laci ibunya.
00:11:22Dengan langkah perlahan dan napas tertahan,
00:11:24ia membuka pintu kecil di langit-langit lorong,
00:11:27menarik tangga kayu tua yang berdebu,
00:11:28dan menaikinya satu persatu.
00:11:31Begitu kepalanya melintasi ambang pintu loteng,
00:11:33bau sangit dan busuk menyambutnya.
00:11:36Di sana,
00:11:37ia melihat sesuatu yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidup.
00:11:41Di ujung ruangan,
00:11:43dalam temaram cahaya senter yang bergoyang pelan,
00:11:45tampak sosok perempuan dengan rambut menjuntai,
00:11:48duduk membelakangi Vira.
00:11:50Tubuhnya kurus,
00:11:51pucat,
00:11:52dan mengenakan baju yang sangat ia kenali,
00:11:54baju tidur ibunya.
00:11:56Yang katanya sudah dibuang sejak lama karena sobek.
00:12:00Saat Vira mencoba melangkah mundur,
00:12:02sosok itu tiba-tiba menoleh.
00:12:04Wajahnya rusak,
00:12:05sebagian kulitnya tanpa terkelupas,
00:12:07dan sorot matanya bukan milik manusia.
00:12:10Sosok itu menatap Vira dengan ekspresi ketakutan,
00:12:13seolah hendam mengatakan sesuatu,
00:12:15tapi suaranya hanya keluar sebagai desisan parau yang tak bisa dimengerti.
00:12:19Senter terjatuh,
00:12:20dan dalam kegelapan,
00:12:22suara itu semakin jelas.
00:12:24Tolong,
00:12:25aku,
00:12:25aku bukan dia,
00:12:27aku,
00:12:27dikurung.
00:12:29Vira membeku.
00:12:30Sosok itu bukan ingin menyakiti.
00:12:34Ia meminta bantuan.
00:12:36Dan dari suara seraknya,
00:12:37Vira bisa menebat,
00:12:38itu ibunya.
00:12:40Atau setidaknya,
00:12:41jiwa yang tersisa dari sang ibu.
00:12:44Vira kini benar-benar yakin.
00:12:46Wanita yang tinggal bersama mereka selama ini,
00:12:49ia memasak,
00:12:50membuka salon,
00:12:51dan bicara seperti ibunya,
00:12:52bukan ibunya.
00:12:54Di bawah,
00:12:55terdengar langkah kaki lain.
00:12:58Berat,
00:12:58berirama.
00:13:00Seolah tahu Vira sedang menyelinap.
00:13:03Vira buru-buru turun dan menutup pintu loteng.
00:13:06Jantungnya berdetak begitu kencang,
00:13:08dan napasnya hampir habis tertahan.
00:13:11Tapi saat ia membalikan badan,
00:13:13ia melihat wanita itu berdiri di ujung lorong rumah.
00:13:16Wajahnya gelap dalam bayangan,
00:13:18tapi senyumnya.
00:13:19Seperti senyum yang dipaksakan oleh topeng.
00:13:22Kamu ngapain di atas,
00:13:23Fir?
00:13:24Tanyanya dengan suara lembut,
00:13:25namun ada nada licin yang menyelip di ujungnya.
00:13:28Vira berusaha tenang.
00:13:31Ada tikus,
00:13:32M.A.
00:13:33Aku dengar suara dari atas.
00:13:36Wanita itu mendekat perlahan.
00:13:38Langkahnya tak berisik,
00:13:39tapi terasa berat.
00:13:41Tangannya menyentuh bahu Vira.
00:13:44Dingin.
00:13:45Kalau kamu penasaran,
00:13:47bilang aja.
00:13:48Kita kan satu keluarga.
00:13:51Gak perlu sembunyi-sembunyi,
00:13:52bisiknya.
00:13:54Tapi jangan pernah masuk loteng lagi ya,
00:13:56itu tempat kotor.
00:13:58Banyak kenangan yang harus dilupakan di sana.
00:14:01Malam itu,
00:14:02Vira tak bisa tidur.
00:14:04Ia kini tahu bahwa sang ibu bukan hanya telah direnggut,
00:14:07tapi juga masih bertahan di suatu tempat,
00:14:09terpenjara dalam rumah sendiri.
00:14:11Dan ia tahu,
00:14:12dirinya mungkin satu-satunya harapan.
00:14:16Sementara itu,
00:14:17di salon,
00:14:18lampu terus menyala meski tak ada tamu.
00:14:20Di balik kaca yang tertutup tirai,
00:14:22bayangan-bayangan terus bergerak.
00:14:25Dan suara-suara aneh terkadang muncul,
00:14:27seolah beberapa perempuan sedang tertawa,
00:14:29atau menangis.
00:14:31Rahasia itu belum sepenuhnya terbuka.
00:14:33Tapi malam semakin panjang.
00:14:36Dan waktu bagi Vira,
00:14:38Dino,
00:14:38dan mungkin bahkan roh ibunya,
00:14:40semakin menipis.
00:14:42Keesokan harinya,
00:14:43Vira mencoba bersikap seperti biasa.
00:14:46Ia menyiapkan sarapan untuk Dino,
00:14:48menanyakan pelajaran di sekolah,
00:14:50bahkan sesekali tersenyum meski tubuhnya masih gemetar.
00:14:53Tapi matanya tak bisa lepas dari sosok yang duduk di meja makan,
00:14:57wanita yang mengenakan baju ibunya,
00:14:59dengan senyum lembut dan ada suara akrab,
00:15:00tapi bukan ibunya.
00:15:03Ia menyadari bahwa setiap gerakan wanita itu,
00:15:05terlalu sempurna.
00:15:07Terlalu diatur.
00:15:09Seolah meniru manusia,
00:15:11bukan menjadi manusia.
00:15:13Sepulang sekolah,
00:15:14Vira kembali ke rumah dengan tekat yang mengeras.
00:15:17Ia tahu ia tak bisa menghadapinya sendiri.
00:15:21Maka ia memberanikan diri menemui satu-satunya orang yang dulu dekat dengan ibunya,
00:15:25Bu Irma,
00:15:26tetangga lama mereka sebelum pindah.
00:15:28Wanita parubaya itu awalnya enggak bicara,
00:15:30tapi begitu Vira menyebut nama ibunya dan berkata bahwa ada yang aneh,
00:15:34wajah Bu Irma langsung berubah.
00:15:37Apa kamu?
00:15:38Kamu yakin itu ibumu?
00:15:39Tanya Bu Irma,
00:15:40setengah berbisik.
00:15:42Vira menganggu perlahan.
00:15:44Aku yakin,
00:15:45dia bukan ibu.
00:15:47Bu Irma menunduk.
00:15:49Lama.
00:15:51Lalu ia membuka dompet kecil di rak dapurnya,
00:15:53dan mengeluarkan foto lama.
00:15:54Di foto itu,
00:15:56tampak ibunya Vira tersenyum bersama tiga perempuan lain.
00:15:59Semua tampak bahagia,
00:16:01kecuali satu.
00:16:02Perempuan yang berdiri di ujung,
00:16:04mengenakan kemeja batik dan senyum tipis.
00:16:07Mata perempuan itu tampak kosong.
00:16:10Dan entah kenapa,
00:16:11wajahnya,
00:16:12mirip sekali dengan wanita yang kini tinggal bersama Vira.
00:16:14Itu siapa?
00:16:17Tanya Vira lirih.
00:16:18Namanya Murni.
00:16:20Dulu pernah tinggal satu kos sama ibumu.
00:16:23Orangnya pendiam,
00:16:24aneh,
00:16:25dan suka bawa minyak wangi sendiri.
00:16:28Tapi,
00:16:29dia juga sakit.
00:16:30Jiwanya gak stabil,
00:16:32ujar Bu Irma.
00:16:34Suatu malam,
00:16:35dia histeris.
00:16:36Bilang dia gak punya wajah sendiri,
00:16:38bahwa dia harus ambil wajah orang lain biar diterima.
00:16:41Vira merasa perutnya mual.
00:16:44Kamu bilang kamu lihat ibumu di loteng?
00:16:47Lanjut Bu Irma,
00:16:48kini mulai menangis pelan.
00:16:50Mungkin,
00:16:51mungkin roh ibumu masih terjebat.
00:16:53Tapi tubuhnya,
00:16:54sudah diambil.
00:16:56Kepalanya terasa berat.
00:16:58Rahasia yang selama ini bersembunyi di balik tirai rumah itu mulai menganga.
00:17:03Ia kini percaya bahwa wanita yang tinggal bersamanya adalah Murni.
00:17:06Seseorang yang mempelajari cara menjadi manusia dari luar,
00:17:09dari kebiasaan,
00:17:10dari topeng,
00:17:11dari aroma.
00:17:13Seseorang yang memuja penampilan,
00:17:15tapi kehilangan jiwa.
00:17:17Vira kembali ke rumah dengan nafas sesat.
00:17:20Di depan pagar,
00:17:21ia melihat wanita itu sedang menyiram bunga.
00:17:24Tapi yang membuat bulu kuduknya berdiri bukanlah senyum wanita itu,
00:17:27melainkan bayangan samar yang muncul di kaca jendela di belakangnya.
00:17:31Wajah ibunya,
00:17:32pucat dan berlinang air mata,
00:17:34menatap langsung ke arah Vira,
00:17:36lalu menghilang.
00:17:37Malam itu,
00:17:39Vira tidak bisa tidur.
00:17:41Suasana kamar yang biasanya menenangkan,
00:17:43kini terasa sempit dan menyesakan.
00:17:46Ia memeluk Dino yang sudah terlelap di sampingnya,
00:17:49seolah itu satu-satunya cara agar ia tetap waras.
00:17:52Tapi pikirannya terus memutar ulang bayangan di jendela siang tadi,
00:17:55wajah ibunya yang muncul sekejap,
00:17:57dengan sorot mata penuh permohonan.
00:18:00Ia tahu,
00:18:01ibunya masih di sana,
00:18:02terjeba entah di mana,
00:18:04meminta tolong.
00:18:04Sekitar pukul 2 dini hari,
00:18:07Vira terbangun karena suara gesekan halus dari loteng.
00:18:11Bukan seperti suara tikus atau benda jatuh,
00:18:13tapi seperti seseorang sedang berjalan,
00:18:15pelan,
00:18:16menyeret sesuatu.
00:18:18Ia menahan nafas.
00:18:20Vino masih tertidur pulas,
00:18:21dan suara itu terdengar makin jelas.
00:18:24Vira pelan-pelan turun dari ranjang,
00:18:26mengambil senter kecil di laci,
00:18:28lalu membuka pintu kamar.
00:18:29Koridor rumah gelap dan dingin.
00:18:32Tak ada cahaya dari kamar sang, ibu.
00:18:36Pintu tertutup rapat.
00:18:38Tapi suara dari loteng kini terdengar makin keras.
00:18:41Dengan langkah perlahan,
00:18:42Vira menyusuri lorong dan berhenti tepat di bawah pintu akses ke loteng.
00:18:47Tali penari kayu tergantung seperti biasa.
00:18:48Tapi malam ini,
00:18:51ia merasa pintu itu seperti menatap balik padanya.
00:18:55Ia menarik tali itu.
00:18:58Pintu loteng terbuka perlahan,
00:18:59dan tangga kayu turun dengan bunyi kerak yang pelan namun menusuk.
00:19:03Vira menyalakan senter dan mulai menaiki anak tangga,
00:19:06satu per satu.
00:19:08Aroma menyengat menusuk hidungnya,
00:19:10bau campuran alkohol,
00:19:11parfum berat,
00:19:12dan darah.
00:19:14Begitu sampai di atas,
00:19:15ia melihat sesuatu yang membuat lututnya hampir lemas.
00:19:17Di tengah ruang sempit dan gelap itu,
00:19:20tergantung sebuah manekin dengan pakaian ibu mereka.
00:19:24Tapi bukan sekadar manekin biasa.
00:19:27Wajahnya diselimuti topeng silikon yang sangat mirip dengan wajah ibunya.
00:19:31Di sekelilingnya,
00:19:32ada banyak potongan rambut palsu,
00:19:34kain-kain bekas,
00:19:35dan foto-foto ibunya.
00:19:37Beberapa di antaranya dicoret dengan tinta merah,
00:19:40dan di satu foto,
00:19:41tertulis dengan tulisan tangan kasar,
00:19:43aku yang lebih layak menjadi ibu.
00:19:46Di sudut ruangan,
00:19:47Tira juga menemukan kota kayu kecil yang terkunci.
00:19:50Ia berusaha membukanya,
00:19:52dan dengan sedikit paksaan,
00:19:54akhirnya kota itu terbuka,
00:19:55isi di dalamnya membuatnya nyaris menjerit.
00:19:59Sepatu tua milik ibunya yang dulu hilang,
00:20:01lionting kecil berbentuk hati yang pernah diberikan Tira saat ulang tahun,
00:20:04dan,
00:20:05kuku jari yang tampaknya dicabut satu persatu.
00:20:08Tira memalingkan wajah,
00:20:10nyaris muntah.
00:20:11Tiba-tiba,
00:20:12suara di belakangnya membuat tubuhnya kaku.
00:20:14Kamu tidak seharusnya di sini.
00:20:18Itu suara wanita itu.
00:20:20Suara yang biasa memanggilnya,
00:20:22sayang,
00:20:22tapi kini terdengar seperti bisikan kematian.
00:20:26Fira berbalik perlahan.
00:20:28Sosok itu berdiri di atas tangga,
00:20:30setengah wajahnya terkena cahaya senter.
00:20:33Dan saat wanita itu tersenyum,
00:20:34Fira sadar,
00:20:35itu bukan senyum ibunya.
00:20:37Itu senyum yang dipelajari.
00:20:40Diciptakan.
00:20:42Dipaksakan.
00:20:44Aku cuma ingin menjadi dia,
00:20:45ucap wanita itu dengan nada datar.
00:20:48Dia tak menghargai apa yang dia punya.
00:20:51Dia tak tahu bagaimana rasanya dibuang,
00:20:53dihina,
00:20:54tak punya siapa-siapa.
00:20:56Tapi aku,
00:20:57aku bisa jadi lebih baik darinya.
00:20:59Di mana ibu?
00:21:01Tanya Fira,
00:21:02air mata mengalir di pipinya.
00:21:04Wanita itu tertawa pelan,
00:21:06sebuah tawa getir bercampur kesedihan.
00:21:08Dia masih di sini.
00:21:11Tapi tidak dalam bentuk yang kamu inginkan.
00:21:14Fira mundur perlahan.
00:21:16Tangannya meraih sesuatu di lantai,
00:21:18sepotong besi panjang,
00:21:19mungkin dari rak yang rusak.
00:21:22Wanita itu melangkah maju,
00:21:23dan Fira tahu,
00:21:25malam ini bukan hanya tentang menjawab misteri,
00:21:27tapi tentang bertahan hidup.
00:21:29Wanita itu menapaki tangga menuju loteng
00:21:31dengan langkah pelan namun mantap,
00:21:32seolah ia ingin memberi waktu pada Fira
00:21:34untuk menyerap kenyataan yang tamasuk akal itu.
00:21:37Cahaya senter di tangan Fira gemetar,
00:21:39terpental ke arah dinding,
00:21:41menciptakan bayang-bayang aneh
00:21:42di antara tumpukan barang-barang lama.
00:21:45Namun tidak ada yang lebih menyeramkan
00:21:46dari bayangan di hadapannya.
00:21:48Sosok perempuan yang mengenakan gaun tidur milik ibunya,
00:21:50dengan rambut di sisi rapi seperti biasa,
00:21:53tapi wajahnya,
00:21:54meski sangat mirip,
00:21:55ada sesuatu yang tidak beres.
00:21:57Terlalu kaku.
00:21:59Terlalu sempurna.
00:22:00Terlalu buatan.
00:22:03Apa kau tahu?
00:22:04Suara wanita itu mengalun datar,
00:22:06sulit sekali menjadi seseorang yang selalu diabaikan.
00:22:10Tapi saat dia pergi,
00:22:11dan kalian tinggal sendiri,
00:22:13aku melihat kesempatan.
00:22:16Di mana ibu?
00:22:17Fira membentak,
00:22:19tak bisa menahan amarah dan kepanikannya.
00:22:22Wanita itu menunduk sebentar,
00:22:23lalu mengangkat kepalanya lagi dengan sorot mata kosong.
00:22:26Dia masih ada di sini.
00:22:28Tapi tidak denganmu.
00:22:31Aku merawat kalian.
00:22:33Aku menyiapkan makanan.
00:22:35Aku mencuci pakaian.
00:22:37Aku mengantar dino sekolah.
00:22:40Bukankah itu cukup?
00:22:41Fira hampir tak percaya.
00:22:44Selama ini,
00:22:45selama berbulan-bulan,
00:22:47semua rutinitas yang ia jalani bersama,
00:22:49ibunya,
00:22:50adalah bersama orang asing.
00:22:52Fira mencoba menarik nafas,
00:22:54mencoba menjaga agar pikirannya tetap jernih.
00:22:57Tapi wanita itu sudah terlalu dekat.
00:23:00Ia mengayunkan besi panjang ke arah wanita itu,
00:23:02tidak tepat mengenai kepala,
00:23:04tapi cukup untuk membuat wanita itu tersungkur.
00:23:06Fira bergegas turun dari loteng,
00:23:09berlari secepat mungkin ke kamar dino.
00:23:11Ia mengunci pintu dan mengguncang tubuh adiknya.
00:23:14Dino, bangun.
00:23:17Kita harus pergi sekarang.
00:23:19Dino terbangun dengan mata yang masih berat,
00:23:21tapi melihat kepanikan di wajah kakaknya cukup untuk membuatnya sadar.
00:23:26Fira menarik tangan adiknya,
00:23:28membawanya ke jendela kamar yang menghadap ke pagar belakang rumah.
00:23:32Ia membuka kunci jendela dan mengangkat Dino keluar lebih dulu.
00:23:34Namun sebelum ia bisa menyusul,
00:23:37pintu kamar mereka digedor keras.
00:23:40Wanita itu berteriak dari luar,
00:23:42suaranya bergetar antara kemarahan dan histeria.
00:23:45Aku ibu kalian.
00:23:47Bukan dia.
00:23:49Aku satu-satunya yang kalian punya sekarang.
00:23:52Fira memaksa dirinya memanjat keluar.
00:23:55Ia dan Dino berlari ke kebun belakang,
00:23:57lalu meneroboh semak-semak yang memisahkan rumah mereka
00:23:59dengan rumah kosong di sebelah.
00:24:00Mereka bersembunyi di sana,
00:24:03menahan nafas,
00:24:04mendengar suara pintu depan di banting terbuka
00:24:06dan langkah kaki berat memburu mereka.
00:24:08Langit mulai terang.
00:24:11Fajar menjelang.
00:24:13Tapi tak ada ketenangan dalam cahaya pagi itu.
00:24:16Saat mereka yakin situasi cukup aman,
00:24:18Fira dan Dino berjalan mengendap menuju pos keamanan kompleks,
00:24:21berharap ada yang bisa mereka hubungi.
00:24:24Beberapa jam kemudian,
00:24:25polisi datang ke rumah mereka.
00:24:27Namun apa yang ditemukan di dalam,
00:24:31jauh lebih membingungkan.
00:24:33Tidak ada tanda-tanda keberadaan wanita asing itu.
00:24:37Tidak ada foto-foto di loteng.
00:24:39Tidak ada manekin.
00:24:41Tidak ada kotak kayu berisi barang pribadi ibunya.
00:24:44Loteng bersih.
00:24:46Kamar rapi.
00:24:48Seolah semuanya hanya mimpi buruk.
00:24:51Tapi di lemari tua di ruang belakang,
00:24:52petugas menemukan sesuatu.
00:24:54Sebuah koper besar berisi kain-kain berlumuran darah,
00:24:57gunting tajam,
00:24:58dan serpihan kuku manusia.
00:25:01Laporan forensik sementara mengindikasikan
00:25:02bahwa jejak darah di kain itu cocok dengan DNA ibu kandung Fira.
00:25:06Namun tubuhnya tidak ditemukan.
00:25:09Dan wanita itu,
00:25:11lenyap tanpa jejak.
00:25:13Fira hanya bisa menggenggam tangan Dino,
00:25:15sambil menatap rumah yang pernah mereka tinggali.
00:25:18Rumah yang kini terasa lebih asing daripada tempat manapun di dunia.
00:25:21Rumah yang pernah mereka sebut tempat berlindung,
00:25:24kini hanya menyisakan tanya yang tak pernah terjawab.
00:25:27Beberapa hari setelah kejadian itu,
00:25:30Fira dan Dino tinggal sementara di rumah keluarga mereka di luar kota.
00:25:34Wartawan mulai berdatangan setelah kabar tentang
00:25:36wanita misterius yang menyamar sebagai ibu,
00:25:39menjadi bahan perbincangan hangat.
00:25:41Tapi tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana wanita itu
00:25:44bisa tinggal bersama dua anak selama berbulan-bulan tanpa terdeteksi,
00:25:47atau kemana perginya tubuh ibu kandung mereka.
00:25:49Polisi melakukan penyelidikan intensif.
00:25:53Mereka memeriksa rekaman CCTV dari lingkungan perumahan.
00:25:57Tapi hasilnya nihil.
00:25:59Tidak ada rekaman aneh,
00:26:01tidak ada bukti wanita asing masuk atau keluar dari rumah.
00:26:04Bahkan tetangga-tetangga sekitar mengaku tidak mencurigai apapun.
00:26:08Mereka justru menganggap ibu Fira sebagai pribadi yang hangat dan ramah,
00:26:12meski sedikit berubah akhir-akhir ini.
00:26:13Tapi bukankah semua orang berubah seiring waktu?
00:26:17Salah satu penyidik mengatakan,
00:26:19kami tak menemukan bukti masuk akal tentang identitas wanita itu.
00:26:23Tidak ada catatan sidik jari,
00:26:25tidak ada jejak DNA,
00:26:27seolah dia memang bukan siapa-siapa.
00:26:29Tapi semua kesaksian Fira dan Dino konsisten.
00:26:32Bahkan Dino bisa menggambarkan secara detail kebiasaan dan wajah,
00:26:37ibu,
00:26:38yang mereka tinggali bersamanya.
00:26:40Seiring waktu berjalan,
00:26:42satu persatu misteri semakin membeku,
00:26:44tak terurai.
00:26:46Namun bagi Fira,
00:26:47tanda tanya terbesar bukan tentang siapa wanita itu,
00:26:50tapi mengapa ia memilih menyamar sebagai ibu mereka.
00:26:53Apa motifnya?
00:26:55Keinginan membangun kehidupan yang tidak ia miliki?
00:26:58Obsesi terhadap peran sebagai seorang ibu?
00:27:00Atau ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap
00:27:03yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehat?
00:27:06Dalam sesi terapi yang dijalani Fira kemudian,
00:27:08ia mulai mengingat kembali detail-detail kecil yang dulu ia anggap biasa.
00:27:13Seperti suara ibu yang sedikit berubah saat berbicara dalam gelap.
00:27:17Atau tatapan kosongnya saat menonton TV sambil mengelus rambut Dino.
00:27:21Atau ketika sang ibu tiba-tiba melarang Fira
00:27:23membuka album keluarga lama yang disimpan di lemari ruang tamu.
00:27:27Dia bukan ibu,
00:27:28ucap Fira di hadapan terapisnya.
00:27:31Dia bukan siapa-siapa.
00:27:33Tapi anehnya,
00:27:35di satu titik,
00:27:37aku percaya bahwa mungkin aku memang butuh dia.
00:27:40Kalimat itu menggambarkan luka mendalam yang lebih besar
00:27:42daripada misteri siapa wanita itu.
00:27:45Yakni tentang rasa kehilangan,
00:27:47tentang kerinduan akan sosok yang memahami,
00:27:49dan betapa rentannya seseorang ketika cinta dan kehangatan datang
00:27:52dari tempat yang salah.
00:27:53Polisi akhirnya menutup kasus itu sebagai kasus terbuka tanpa tersangka,
00:27:58meski publik tetap berspekulasi.
00:28:00Sebagian orang percaya wanita itu adalah pelaku kriminal dengan gangguan jiwa.
00:28:05Sebagian lagi percaya ia adalah korban trauma yang tak diketahui asalnya.
00:28:08Tapi ada juga yang menyebut bahwa semua ini bukan sekadar kejahatan,
00:28:13melainkan peringatan,
00:28:14bahwa dalam dunia yang makin sunyi,
00:28:16siapapun bisa menjadi,
00:28:17ibu,
00:28:18selama ada yang membiarkan mereka masuk ke dalam hidup.
00:28:20Tira dan Dino tumbuh dengan luka yang sulit disembuhkan.
00:28:25Tapi dibalik itu,
00:28:26mereka juga tumbuh dengan kekuatan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain.
00:28:31Keberanian untuk mempertanyakan apa yang tampak nyata,
00:28:34dan keberanian untuk bertahan meski cinta datang dari wajah yang salah.
00:28:38Setahun setelah kejadian itu,
00:28:40Tira tak lagi tinggal di kota yang sama.
00:28:43Ia melanjutkan sekolah di luar negeri,
00:28:45jauh dari tempat yang dulu ia sebut rumah.
00:28:48Namun bayangan masa lalu tak bisa dihindari.
00:28:51Di negeri asing dengan udara berbeda,
00:28:53Tira tetap membawa potongan-potongan kisah yang belum utuh,
00:28:56mengendap seperti abu di sudut pikiran yang tak bisa ia bersihkan.
00:29:00Sementara Dino kini tinggal bersama keluarga dari pihak ayah.
00:29:04Mereka berdua menjalani hidup terpisah,
00:29:06meski tetap saling menghubungi,
00:29:08terutama ketika malam terasa terlalu sunyi,
00:29:10dan mimpi buruk datang tanpa pemberitahuan.
00:29:13Salah satu psikolog yang menangani Tira pernah mengatakan,
00:29:16rasa takut yang paling dalam adalah rasa takut yang tidak bisa kamu jelaskan.
00:29:19Dan itulah yang Fira rasakan hingga kini.
00:29:23Bukan takut terhadap wanita misterius itu,
00:29:26tapi takut pada kenyataan bahwa semuanya bisa terasa begitu nyata,
00:29:29padahal mungkin sejak awal,
00:29:31semua itu tak pernah masuk akal.
00:29:32Bahwa seseorang bisa menyusup masuk ke kehidupan kita,
00:29:37memalsukan kenangan,
00:29:38dan membuat kita percaya bahwa mereka adalah bagian dari keluarga.
00:29:42Di sisi lain,
00:29:43kasus ini justru menjadi bahan kajian di beberapa fakultas psikologi dan kriminologi.
00:29:48Para akademisi mencoba mengaitkan fenomena itu dengan kasus-kasus langka di dunia nyata,
00:29:53orang-orang yang menyamar menjadi bagian dari keluarga lain,
00:29:55bahkan selama bertahun-tahun.
00:29:57Kasus seperti Frederic Bourdain di Perancis,
00:30:00atau Niholas Barclay di Amerika,
00:30:02kini jadi bahan perbandingan.
00:30:04Tapi satu hal tetap membedakan,
00:30:06dalam film ini,
00:30:08sosok yang menyamar bukan hanya menipu,
00:30:10melainkan menjalankan peran ibu dengan nyari sempurna,
00:30:12hingga akhir.
00:30:14Salah satu pengajar di Universitas Jakarta mengatakan dalam wawancaranya,
00:30:18pertanyaan penting dalam kasus ini bukan cuma,
00:30:20siapa dia,
00:30:21tapi,
00:30:21apa yang ia inginkan?
00:30:24Bila motifnya bukan uang,
00:30:26bukan penculikan,
00:30:27dan bukan pelarian,
00:30:28maka kita harus menganggap kemungkinan keempat.
00:30:31Bahwa ia benar-benar ingin menjadi bagian dari keluarga.
00:30:35Dan itu lebih menyeramkan daripada penipuan biasa.
00:30:39Film ini juga memancing diskusi tentang trauma anak,
00:30:41pengabayan emosional,
00:30:43dan bagaimana kebutuhan akan kehadiran orang tua
00:30:45bisa membuat anak-anak membuka pintu
00:30:46bagi siapa saja yang mau berpura-pura peduli.
00:30:48Di titik inilah kisah Fira dan Dino menjadi lebih dari sekadar horor rumah tangga.
00:30:54Ini adalah kisah tentang kehausan akan kasih sayang
00:30:57yang bisa menjadi celah bagi sesuatu yang jauh lebih mengerikan
00:30:59untuk masuk dan tinggal.
00:31:02Dan di akhir segalanya,
00:31:03ketika Fira membaca buku harian lamanya,
00:31:05ia menemukan satu kalimat yang membuat tubuhnya kembali gemetar.
00:31:08Kadang,
00:31:09ibu menatapku seperti ia tahu aku bukan anak kandungnya.
00:31:12Kalimat itu ditulis beberapa minggu sebelum semuanya terungkap.
00:31:17Sebuah kesadaran kecil yang muncul,
00:31:19terlambat disadari
00:31:20bahwa mungkin bukan hanya dia yang merasa ditipu.
00:31:24Mungkin wanita itu juga sedang mencari sesuatu.
00:31:27Sesuatu yang bahkan lebih mengerikan.
00:31:30Seorang anak yang bisa menggantikan kehilangan dalam dirinya.
00:31:34Tapi ketika kehilangan bertemu kehilangan.
00:31:37Yang lahir bukanlah penghiburan.
00:31:40Melainkan tragedi.
00:31:40Beberapa tahun kemudian,
00:31:44Fira mulai menulis buku.
00:31:46Ia menamai proyeknya dia bukan ibu,
00:31:48sama seperti judul film yang kini menghantui sejarah hidupnya.
00:31:52Tapi buku ini bukan tentang hantu,
00:31:54bukan pula tentang pembunuhan atau pengusiran makhluk dari dunia lain.
00:31:57Buku itu adalah memoar,
00:31:59sebuah rekaman tentang bagaimana trauma,
00:32:02kehilangan,
00:32:03dan rasa rindu bisa menciptakan lubang yang dalam di dalam jiwa,
00:32:06lubang yang bisa diisi oleh apa saja,
00:32:08bahkan oleh sosok yang salah.
00:32:09Dalam sesi wawancara peluncuran bukunya,
00:32:13Fira duduk tenang di balik meja.
00:32:15Wajahnya kini lebih dewasa,
00:32:17tapi tatapan matanya masih menyimpan bekas dari masa lalu.
00:32:21Seorang wartawan bertanya,
00:32:22apakah anda percaya bahwa sosok itu benar-benar bukan manusia?
00:32:26Fira tersenyum tipis,
00:32:28lalu menjawab,
00:32:29aku tidak tahu.
00:32:30Tapi yang aku tahu,
00:32:32tidak semua yang terlihat seperti keluarga adalah keluarga.
00:32:35Dan tidak semua kehangatan datang dari cinta.
00:32:37Terkadang,
00:32:40ia datang dari sesuatu yang hanya ingin diterima.
00:32:43Jawaban itu membuat ruang menjadi senyap.
00:32:46Sebagian pembaca menganggapnya sebagai metafora,
00:32:49sebagian lainnya yakin itu adalah pengakuan terselubung
00:32:51bahwa apa yang terjadi dulu lebih dari sekadar gangguan psikologis.
00:32:55Tapi Fira sendiri tak pernah benar-benar menjelaskan.
00:32:59Ia memilih membiarkan kisah itu hidup di antara baris-baris kata,
00:33:02membiarkan pembaca menemukan ketakutannya sendiri.
00:33:05Film yang terinspirasi dari kisah ini
00:33:07terus ditonton ulang di berbagai platform.
00:33:10Ia tak sekadar menjadi tontonan horror,
00:33:12melainkan juga bahan refleksi.
00:33:15Banyak penonton,
00:33:16terutama mereka yang tumbuh dengan luka dalam keluarga,
00:33:19merasa melihat cerminan dari rasa sepi mereka
00:33:21dalam sosok Fira dan Dino.
00:33:23Bahwa kadang,
00:33:24keinginan kita untuk memeluk sosok ibu yang hangat
00:33:26bisa membuat kita memeluk apa saja,
00:33:28termasuk sesuatu yang asing.
00:33:30Sementara itu,
00:33:32rumah lama tempat kejadian itu berlangsung kini kosong.
00:33:34Tak ada yang berani membelinya.
00:33:37Warga sekitar menganggapnya angker,
00:33:40meski tak ada kejadian supranatural yang terdokumentasi sejak peristiwa itu.
00:33:44Namun,
00:33:45beberapa malam,
00:33:46seorang tukang ojek online pernah bersumpah melihat bayangan perempuan di jendela atas rumah itu,
00:33:50berdiri diam,
00:33:52memandangi jalanan,
00:33:53seolah menunggu seseorang pulang.
00:33:55Entah itu imajinasi.
00:33:58Entah itu sisa dari cerita yang belum tuntas.
00:34:01Tapi bagi Fira,
00:34:02satu hal yang ia pelajari dengan pasti adalah ini,
00:34:05yang paling menakutkan bukanlah sosok hantu yang menampakkan diri.
00:34:08Melainkan sosok yang tinggal bersamamu,
00:34:10makan bersamamu,
00:34:12tidur di kamar sebelah,
00:34:13dan selama itu,
00:34:14kamu tak pernah tahu siapa dia sebenarnya.
00:34:17Beberapa halaman terakhir dalam buku Fira menyimpan pesan yang tidak ditulis dengan tinta kemarahan atau trauma,
00:34:22melainkan dengan perasaan bersalah yang belum selesai.
00:34:26Ia menyelipkan catatan kecil,
00:34:28bukan untuk membaca umum,
00:34:29melainkan seolah untuk seseorang yang ia tahu tak akan pernah membacanya,
00:34:33untuk ibunya.
00:34:35Terkadang aku masih berharap kau membuka pintu itu,
00:34:37tersenyum,
00:34:38dan menyuruhku masuk.
00:34:40Bukan kau yang terakhir kulihat,
00:34:43tapi kau yang dulu.
00:34:44Yang menyisir rambutku sebelum sekolah.
00:34:48Yang mengelap air mataku dengan tangan yang hangat,
00:34:50bukan dingin dan berdarah.
00:34:53Di salah satu halaman,
00:34:54ia menuliskan pertanyaan yang menggantung.
00:34:57Kalau semua ini bukan salahmu,
00:34:59salah siapa?
00:35:01Itu pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.
00:35:04Dan mungkin tak akan pernah.
00:35:06Kini,
00:35:07kehidupan Fira jauh dari gemerlap dan sorotan.
00:35:10Ia tinggal di kota kecil,
00:35:12mengajar di sebuah sekolah menengah,
00:35:13mencoba menjalani hidup seperti orang kebanyakan.
00:35:17Tapi bayangan masa lalunya selalu membuntuti.
00:35:20Setiap kali Dino menelepon dan terdengar suara keponakan kecilnya
00:35:23memanggil dari latar belakang,
00:35:25Fira sejenak terdiam.
00:35:27Ia tahu hidup terus berjalan.
00:35:30Namun,
00:35:30ia juga tahu bahwa tidak semua luka sembuh seiring waktu.
00:35:34Ia menyimpan satu benda di laci meja tidurnya.
00:35:36Bukan foto keluarga,
00:35:39bukan benda pusaka.
00:35:41Tapi sebuah sisir tua berwarna gading,
00:35:43satu-satunya peninggalan dari salon milik ibunya.
00:35:47Sisir itu pernah ia temukan dalam keadaan bersih,
00:35:50seolah baru dipakai.
00:35:52Padahal seluruh salon sudah terbakar habis bertahun-tahun lalu.
00:35:56Ia tak pernah berani membuangnya.
00:35:58Karena entah bagaimana,
00:36:00benda itu seperti mengikatnya dengan kenangan yang tak bisa ia lepaskan.
00:36:04Dan pada malam-malam tertentu,
00:36:06ketika angin bertiup kencang dan lampu kamar meredup karena korsleting,
00:36:09Fira masih merasakan kehadiran itu.
00:36:12Bukan di lorong.
00:36:13Bukan di balik pintu kamar mandi.
00:36:16Tapi di dalam dirinya sendiri.
00:36:18Karena trauma,
00:36:20seperti yang ia tulis,
00:36:21bukan sesuatu yang datang dari luar.
00:36:24Ia tumbuh di dalam.
00:36:26Perlahan.
00:36:27Diam-diam.
00:36:29Dan ketika kau tak siap,
00:36:31ia mengambil alih.
00:36:33Satu sore,
00:36:34saat hujan rintik menyapu jendela kecil di ruang guru tempat Fira bekerja,
00:36:37seorang murid perempuan mengetup pelan pintunya.
00:36:40Namanya Amel.
00:36:42Wajahnya pucat,
00:36:43dan matanya terlihat berat oleh sesuatu yang belum sempat ia ceritakan.
00:36:47Fira menyambutnya dengan senyum hangat,
00:36:49seperti biasa,
00:36:51lalu mempersilahkan duduk.
00:36:53Namun,
00:36:54yang keluar dari mulut Amel bukanlah laporan nilai
00:36:56atau permintaan izin.
00:36:59Bu,
00:36:59ibu saya berubah.
00:37:02Fira,
00:37:03yang tadinya memegang buku nilai,
00:37:05seketika menghentikan gerakannya.
00:37:07Tatapannya menyelidik,
00:37:09tapi tenang.
00:37:10Ia menunggu dengan sabar,
00:37:12tak ingin menyela,
00:37:13karena suara Amel terdengar rapuh,
00:37:15seperti retakan pertama di permukaan kaca.
00:37:18Dulu ibu suka masa tiap pagi.
00:37:20Sekarang,
00:37:21dia sering ngelamun.
00:37:22Kadang kalau malam saya dengar dia ngomong sendiri di dapur.
00:37:27Pernah saya intip,
00:37:28dia kayak lagi nyisir rambut orang.
00:37:30Tapi gak ada siapa-siapa.
00:37:33Fira tak langsung menjawab.
00:37:35Di dalam dadanya,
00:37:36ada sesuatu yang mengencang.
00:37:39Bukan hanya karena kisah itu terlalu akrab,
00:37:41tapi karena ia tahu,
00:37:42saat seseorang mengalami sesuatu yang hampir sama dengan yang pernah ia alami,
00:37:46maka itu bukan sekadar kebetulan.
00:37:47Ia mencoba merespons dengan bijak,
00:37:51mengajukan beberapa pertanyaan ringan,
00:37:53seolah menenangkan.
00:37:55Namun benaknya sudah berpacu.
00:37:57Ia pulang ke rumah dengan langkah berat,
00:37:59membawa kisah Amel seperti hantu baru yang menempel di bahunya.
00:38:03Di rumah,
00:38:04malam itu,
00:38:05Fira membuka kembali catatan lamanya.
00:38:08Bukan untuk bernostalgia,
00:38:11tapi untuk mencari pola.
00:38:13Ia melihat ke belakang bukan dengan rasa takut,
00:38:15tapi dengan tujuan yang lebih besar,
00:38:16memastikan bahwa lingkaran ini berhenti padanya.
00:38:20Beberapa hari kemudian,
00:38:22Fira mendatangi rumah Amel.
00:38:24Ia tak memberitahu siapapun.
00:38:26Tak membawa apapun kecuali sebuah senter kecil
00:38:28dan sisir gading yang selama ini ia simpan.
00:38:32Amel membuka pintu,
00:38:33lalu mempersilahkan Fira masuk dengan mata yang berbinar,
00:38:36seolah tahu bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang penting.
00:38:40Di dalam rumah itu,
00:38:41Fira melihat segalanya.
00:38:43Tatanan ruang yang terlalu rapi.
00:38:44Bau menyengat dari dupa yang terbakar terlalu lama.
00:38:49Dan seorang ibu yang duduk di pojok ruang tengah dengan tatapan kosong,
00:38:52rambut panjang tergerai,
00:38:54memutar-mutarkan sisir kayu dengan gerakan pelan dan ritmis.
00:38:57Detik itu juga,
00:38:59Fira tahu.
00:39:00Apa yang dulu ia kira sudah selesai,
00:39:02ternyata hanya tidur sebentar.
00:39:05Ada sesuatu yang bangkit.
00:39:07Sesuatu yang berpindah.
00:39:08Sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi.
00:39:12Dan ia harus memilih.
00:39:15Melawan,
00:39:16atau sekali lagi,
00:39:17kehilangan.
00:39:19Fira berdiri mematung di ambang ruang keluarga.
00:39:22Cahaya dari senter kecilnya menari di dinding,
00:39:24sementara sisir gading di tangannya mulai terasa hangat,
00:39:27seolah mengenali sesuatu.
00:39:29Tangannya gemetar,
00:39:31bukan karena takut,
00:39:32tapi karena beban dari masa lalu yang kini kembali menuntut peran darinya.
00:39:35Tak ada jalan keluar yang mudah kali ini.
00:39:38Tapi Fira sudah tak bisa mundur.
00:39:41Karena dia tahu,
00:39:43ini bukan cuma tentang Amel.
00:39:45Ini tentang siapapun yang pernah kehilangan ibunya,
00:39:47tapi masih melihat wajahnya dicermin setiap hari.
00:39:51Amel berdiri di belakang Fira,
00:39:53menggenggam ujung bajunya dengan tangan kecil yang dingin.
00:39:56Di dalam ruangan itu,
00:39:57keheningan seolah membeku.
00:40:00Sang ibu masih duduk mematung,
00:40:02rambutnya kini tampak lebih panjang
00:40:03daripada terakhir kali Amel melihatnya.
00:40:06Ada sesuatu yang ganjil,
00:40:07helai-helai rambut itu tampak tumbuh di luar logika,
00:40:10menjulur ke lantai dan mulai melilit kaki kursi,
00:40:13nyaris seperti akar yang tumbuh dari tubuh manusia.
00:40:16Fira maju satu langkah,
00:40:18lalu berjongkok di depan sang ibu.
00:40:20Tatapannya tajam namun penuh empati.
00:40:23Ia menyadari bahwa ini bukan hanya fenomena supranatural,
00:40:26tapi trauma yang menetas dari luka yang tak pernah dirawat.
00:40:29Luka yang menurun dari generasi ke generasi,
00:40:32menyamar sebagai gangguan jiwa,
00:40:34kerasukan,
00:40:35atau depresi,
00:40:36padahal mungkin lebih dari itu.
00:40:39Mungkin,
00:40:39ini warisan.
00:40:41Sang ibu mendonga perlahan.
00:40:44Mata mereka bertemu.
00:40:46Tak ada kata yang diucapkan,
00:40:47tapi Fira merasakan satu hal,
00:40:49ibu Amel tak sepenuhnya hilang.
00:40:51Ada bagian kecil dalam dirinya yang masih bertahan,
00:40:54meskipun terkubur jauh di balik sosok yang tampak asing itu.
00:40:58Sejenak,
00:40:58dunia terasa senyap.
00:41:01Lalu,
00:41:02suara lirih terdengar.
00:41:04Bukan dari ibu Amel,
00:41:05tapi dari dalam dirinya sendiri.
00:41:08Sebuah bisikan yang selama ini ia pendam.
00:41:11M.A.,
00:41:11kalau ini memang warisanmu,
00:41:13biar aku yang jadi batasnya.
00:41:15Dan Fira pun menyentuhkan sisir gading itu ke rambut sang ibu.
00:41:19Sekilas tak terjadi apa-apa.
00:41:22Tapi detik berikutnya,
00:41:23seisi ruangan bergetar ringan.
00:41:26Dinding yang tadinya dingin seperti batu
00:41:28mulai mengeluarkan retakan halus.
00:41:30Rambut yang melilit kaki kursi terurai dan menggulung kembali.
00:41:34Mata ibu Amel terpejam,
00:41:36lalu terbuka perlahan.
00:41:38Wajahnya menunjukkan kebingungan,
00:41:40lalu air mata mengalir,
00:41:41tanpa suara,
00:41:43tanpa histeria.
00:41:44Tangis yang datang dari tempat terdalam seorang ibu
00:41:46yang lama terpenjara oleh sesuatu yang tak ia pahami.
00:41:50Amel langsung memeluk ibunya.
00:41:51Tak peduli apakah pelukan itu menyembuhkan.
00:41:55Ia hanya tahu,
00:41:56ibunya kembali bernapas seperti manusia.
00:41:59Fira bangkit perlahan.
00:42:02Ia tahu ini belum akhir dari semuanya.
00:42:04Mungkin apa yang mereka lawan bukan sesuatu yang bisa diusir dengan mantra atau api,
00:42:08tapi sesuatu yang jauh lebih dekat,
00:42:10rasa bersalah,
00:42:11kehilangan,
00:42:12dendam,
00:42:13dan rasa takut yang diwariskan turun-temurun dalam bentuk yang terus berubah-ubah.
00:42:17Sebelum pergi,
00:42:18Fira memandangi sisir gading di tangannya.
00:42:21Kini warnanya tak lagi putih bersih.
00:42:24Ada noda gelap samar di ujungnya,
00:42:26seperti serpihan dari ingatan yang telah dibersihkan.
00:42:30Ia meninggalkan sisir itu di rumah Amel.
00:42:33Bukan sebagai warisan,
00:42:35tapi sebagai pengingat,
00:42:36bahwa kadang yang menyelamatkan kita bukanlah kekuatan,
00:42:39tapi keberanian untuk melihat luka dengan mata terbuka.
00:42:42Di perjalanan pulang,
00:42:44Fira menatap langit senja yang perlahan tenggelam.
00:42:47Di balik bayangan pepohonan,
00:42:49ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya.
00:42:51Tapi kali ini,
00:42:53ia tidak lari.
00:42:54Ia tak lagi ingin memutus warisan itu dengan kemarahan.
00:42:58Ia ingin mengakhirinya dengan pengertian.
00:43:01Karena bukan hanya tentang siapa yang menyakiti.
00:43:04Tapi tentang siapa yang cukup berani untuk berhenti mewariskan luka.
00:43:07Keesokan harinya,
00:43:09Fira kembali ke kota.
00:43:11Jalanan tampak seperti biasa.
00:43:13Macet,
00:43:14penuh klakson,
00:43:15dan wajah-wajah tergesa.
00:43:18Namun bagi Fira,
00:43:19semuanya tak lagi terasa sama.
00:43:21Ia telah membawa pulang sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain.
00:43:24Sebuah pemahaman baru akan luka,
00:43:26cinta,
00:43:27dan bagaimana batas antara keduanya bisa kabur jika tidak kita jaga.
00:43:30Ia menatap wajahnya di cermin kamar kontrakan,
00:43:34membiarkan rambutnya tergerai tanpa disisir.
00:43:38Untuk pertama kalinya dalam waktu lama,
00:43:40ia tak merasa perlu merapikan diri agar terlihat baik-baik saja.
00:43:44Luka di masa lalu,
00:43:45yang dulu ia tutupi dengan senyum palsu,
00:43:47kini terasa lebih jujur ketika dibiarkan terbuka.
00:43:51Beberapa hari kemudian,
00:43:52ia menerima surat elektronik dari Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan.
00:43:56Amel sudah mulai menjalani terapi intensif.
00:43:59Ibunya,
00:44:01kini ditangani oleh psikiater dan perawat jiwa di sebuah fasilitas khusus.
00:44:05Tidak untuk dihukum,
00:44:06tapi untuk dipulihkan.
00:44:09Laporan yang dikiri menyebutkan bahwa dalam sesi-sesi awal,
00:44:12ibu Amel hanya diam.
00:44:14Namun pada sesi kelima,
00:44:15ia mulai berbicara.
00:44:17Kalimat pertamanya sangat sederhana.
00:44:20Saya dulu seorang penata rambut.
00:44:22Vira membaca kalimat itu berulang kali.
00:44:25Bukan karena ia meragukan kebenarannya,
00:44:27tapi karena ia merasa itu semacam pertanda.
00:44:30Bahwa dibalik semua kegelapan,
00:44:32selalu ada seberkas cahaya kecil yang bisa ditemukan.
00:44:36Asal seseorang cukup sabar untuk mencarinya.
00:44:39Di luar,
00:44:40suara motor berseliweran.
00:44:41Anak-anak berlarian pulang sekolah.
00:44:45Dunia tetap sibuk dengan rutinitasnya.
00:44:48Tapi di dalam dirinya,
00:44:50Vira tahu,
00:44:51ia telah bergeser.
00:44:53Bukan menjadi orang baru.
00:44:55Tapi menjadi dirinya yang utuh,
00:44:57yang tidak lagi berusaha melupakan,
00:44:59melainkan berdamai dengan semua yang telah terjadi.
00:45:02Ia menutup laptop dan berjalan ke balkon.
00:45:04Di tangannya,
00:45:06segelas kopi yang mulai mendingin.
00:45:09Di pikirannya,
00:45:10masih terbayang wajah Amel.
00:45:13Bocah kecil yang akhirnya bisa tidur di pelukan ibunya sendiri,
00:45:16meski harus melewati malam-malam panjang penuh mimpi buruk.
00:45:19Tapi kali ini,
00:45:20Vira tidak merasa terbebani.
00:45:23Karena ia tahu,
00:45:24kisah mereka belum selesai.
00:45:26Tapi yang pasti,
00:45:27untuk Amel,
00:45:28dan mungkin untuk dirinya sendiri,
00:45:30itu bukan lagi kisah tentang ketakutan.
00:45:32Melainkan tentang seseorang yang cukup berani untuk berkata,
00:45:36sudah cukup.
00:45:38Dan itu,
00:45:39seringkali,
00:45:40lebih kuat dari mantra apapun.
00:45:42Beberapa minggu berlalu,
00:45:44nama Amel perlahan mulai tenggelam dari lini masa media sosial.
00:45:49Tread viral tentang kisah mengerikan di sebuah salam kecil di pinggiran kota
00:45:52telah lenyap di telang kabar politik,
00:45:54gosip selebriti,
00:45:55dan sensasi-sensasi baru lainnya.
00:45:58Namun bagi Vira,
00:45:59semuanya masih hidup,
00:46:01masih membekas,
00:46:01dan bahkan kadang menghantui setiap mimpinya.
00:46:05Ia tetap melanjutkan aktivitasnya sebagai jurnalis lepas.
00:46:09Tapi sejak kasus itu,
00:46:10cara pandangnya terhadap dunia tak lagi sama.
00:46:13Ia tak lagi sekadar mencari cerita untuk diburu atau headline untuk dikemas.
00:46:18Ia mulai mencari makna.
00:46:20Tentang apa yang tersembunyi di balik sorot mata manusia yang diam,
00:46:23atau di balik tawa anak kecil yang terdengar biasa saja,
00:46:26namun ternyata menyimpan jeritan.
00:46:29Dino kembali bersekolah seperti biasa.
00:46:31Mereka sempat saling berkunjung,
00:46:33dan meskipun tak ada kata yang benar-benar bisa mewakili rasa syukur,
00:46:36pelukan mereka cukup.
00:46:37Matanya berkaca-kaca.
00:46:41Ia menggenggam tangan Fira arat.
00:46:43Anak saya juga seperti Amel,
00:46:45katanya lirih.
00:46:47Tapi saya nggak pernah tahu harus mulai dari mana.
00:46:50Fira menatapnya sebentar,
00:46:52lalu menjawab pelan,
00:46:53mulai dari mendengarkan.
00:46:55Perempuan itu mengangguk,
00:46:57lalu pergi,
00:46:58membawa harapan kecil dalam langkahnya.
00:46:59Fira tahu,
00:47:02kisah seperti milik Amel tak akan pernah benar-benar berakhir.
00:47:05Tapi setiap orang yang memutuskan untuk mendengarkan,
00:47:08benar-benar mendengarkan,
00:47:09adalah satu cahaya baru yang menyalakan jalan
00:47:11bagi mereka yang masih terjebak dalam gelap.
00:47:14Dan barangkali,
00:47:15disitulah tugas jurnalis yang paling sejati.
00:47:17Bukan hanya mencatat kejadian,
00:47:21tapi juga menyentuh luka.
00:47:22Dan, sebisa mungkin,
00:47:24membantu menyembuhkannya.
00:47:26Beberapa bulan setelah dokumenter itu tayang,
00:47:29sebuah email masuk ke kotak masuk Fira.
00:47:31Isinya pendek,
00:47:33tanpa lampiran,
00:47:34hanya terdiri dari dua kalimat,
00:47:35saya sudah menonton dokumenternya.
00:47:38Saya siap bicara kapanpun kamu mau mendengarkan.
00:47:41Email itu ditanda tangani dengan inisial A.
00:47:45Jantung Fira berdegup kencang.
00:47:47Ia tahu persis siapa pengirimnya,
00:47:50Amel.
00:47:51Gadis itu akhirnya menghubungi.
00:47:54Bukan karena dipaksa,
00:47:55bukan karena terpojok.
00:47:57Tapi karena ia ingin bicara.
00:48:00Mereka bertemu di sebuah taman kota yang tenang.
00:48:03Amel sudah jauh berbeda.
00:48:05Rambutnya dipotong pendek,
00:48:07wajahnya tampak lebih segar,
00:48:08dan sorot matanya tak lagi kosong.
00:48:11Namun jejak masa lalu masih tersisa
00:48:13dalam cara ia menggenggam cangkir teh yang disodorkan Fira,
00:48:15sedikit gemetar,
00:48:16sedikit waspada.
00:48:19Amel tak langsung bicara.
00:48:21Ia hanya duduk,
00:48:22memandangi air mancur di kejauhan.
00:48:25Lalu perlahan,
00:48:26ia mulai bercerita.
00:48:28Tanpa tekanan,
00:48:30tanpa catatan,
00:48:31tanpa alat perekam.
00:48:33Ia hanya ingin didengarkan,
00:48:34seperti kata Fira dulu.
00:48:37Ia cerita tentang malam-malam panjang setelah ibunya meninggal,
00:48:40tentang perasaan bersalah yang membungkus seluruh tubuhnya
00:48:42seperti selimut basah yang tak pernah bisa dikeringkan.
00:48:44Ia cerita tentang suara-suara yang masih kadang datang,
00:48:48tentang tangisan bayi yang terdengar dari kamar mandi,
00:48:51tentang bau rambut terbakar yang kadang muncul entah dari mana.
00:48:54Tapi ia juga cerita tentang bagaimana pelan-pelan,
00:48:57ia belajar berdamai.
00:48:59Lewat terapi,
00:49:00lewat menulis puisi,
00:49:02dan lewat satu keputusan besar yang belum pernah ia ceritakan pada siapapun,
00:49:05Amel ingin menjadi guru TK.
00:49:07Karena,
00:49:08katanya pelan sambil menatap anak-anak bermain di taman,
00:49:11gak semua anak punya ibu yang tahu cara mencintai dengan benar.
00:49:15Tapi setiap anak pantas belajar tentang cinta,
00:49:17dari orang dewasa yang gak menyakiti mereka.
00:49:21Fira nyaris menangis mendengar itu.
00:49:23Bukan karena sedih,
00:49:24tapi karena kagum.
00:49:27Di balik trauma yang begitu kelam,
00:49:29Amel tak memilih untuk tenggelam.
00:49:31Ia memilih untuk membalikkan arah.
00:49:33Sebelum berpisah,
00:49:35Amel menyerahkan sebuah kotak kecil.
00:49:38Di dalamnya ada potongan pita rambut warna merah muda,
00:49:41lusuh,
00:49:42tapi bersih.
00:49:43Pita itu dulu pernah dipakai ibunya waktu masih bekerja di salon.
00:49:47Amel menyimpannya sebagai kenangan,
00:49:49bukan sebagai kutukan.
00:49:51Kalau kamu mau,
00:49:53kata Amel,
00:49:53boleh titip ini di mejamu.
00:49:56Biar kamu ingat,
00:49:57bahwa cerita-cerita seperti aku gak selalu harus berakhir menyeramkan.
00:50:01Fira mengangguk.
00:50:02Ia tahu bahwa sebagai jurnalis,
00:50:05kisah-kisah seperti ini tak datang setiap hari.
00:50:08Tapi ketika datang,
00:50:09mereka bukan sekadar berita.
00:50:12Mereka adalah cermin.
00:50:14Tentang kita.
00:50:15Tentang luka.
00:50:17Dan tentang kemungkinan pulih.
00:50:20Hari itu,
00:50:21dua perempuan yang dipertemukan oleh horror duduk berdampingan di bawah langit sore yang biasa saja.
00:50:25Tak ada musik latar.
00:50:28Tak ada sorotan lampu.
00:50:29Hanya dua jiwa yang pernah terluka,
00:50:32memilih untuk tidak menyimpan dendam pada dunia.
00:50:35Dan di antara semua berita yang pernah ditulis Fira,
00:50:38mungkin inilah satu-satunya yang benar-benar membuatnya percaya,
00:50:41bahwa di ujung paling kelam dari rasa sakit kadang-kadang,
00:50:44masih ada ruang untuk pulang.
00:50:46Setahun berlalu sejak pertemuan mereka di taman kota.
00:50:49Nama Fira perlahan tenggelam dari lini masa media sosial,
00:50:53digantikan oleh skandal baru,
00:50:55film baru,
00:50:56dan selebritas baru.
00:50:57Tapi bagi sebagian orang,
00:50:59kisah yang pernah ia hadirkan tetap hidup,
00:51:01bukan karena sensasi,
00:51:03melainkan karena kejujuran.
00:51:05Di suatu pagi yang hujan,
00:51:07Fira menerima surat pos beramplop coklat.
00:51:10Bukan email,
00:51:11bukan pesan instan.
00:51:13Surat fisik,
00:51:13ditulis tangan dengan tinta biru yang sedikit luntur terkena percikan air.
00:51:18Pengirimnya adalah seorang ibu rumah tangga dari Blitar.
00:51:22Ia menulis bagaimana dokumen terfira membantunya memahami perilaku anak perempuannya
00:51:25yang sering bicara sendiri dan menyimpan ketakutan akan kamar mandi.
00:51:29Saya tidak tahu harus memulai dari mana,
00:51:32tapi saya akhirnya membawa dia ke psikolog anak.
00:51:35Saya pikir,
00:51:36mungkin saya bisa jadi ibu yang lebih baik.
00:51:39Terima kasih sudah membuat saya berani melihat ke dalam diri saya sendiri.
00:51:43Fira membacanya pelan,
00:51:45lalu meletakkannya di kotak besi tempat ia menyimpan dokumen penting.
00:51:49Di antara paspor,
00:51:50akta kelahiran,
00:51:51dan sertifikat penghargaan jurnalisme,
00:51:53surat itu tampak sederhana,
00:51:55tapi bermakna paling besar.
00:51:57Ia tidak pernah menganggap dirinya pahlawan.
00:52:01Ia hanya bercerita.
00:52:03Tapi ternyata,
00:52:04bercerita pun bisa menyelamatkan.
00:52:06Bukan dunia,
00:52:08tapi mungkin satu kehidupan.
00:52:10Dan satu kehidupan sudah cukup.
00:52:12Di kantor redaksi tempat ia bekerja kini,
00:52:15ada sebuah papan pengumuman kecil di dekat ruang editing.
00:52:18Di sana,
00:52:19rekan-rekannya suka menempelkan kutipan favorit.
00:52:23Fira baru saja menambahkan satu kertas kecil di sana,
00:52:25tulisannya berasal dari catatan tangan Amel.
00:52:29Trauma tidak membuat kita rusak.
00:52:31Ia hanya bagian dari cerita kita.
00:52:33Dan cerita tidak harus berakhir di bab yang menakutkan.
00:52:36Hari itu,
00:52:38Fira duduk lama di mejanya.
00:52:41Ia tahu akan ada cerita baru yang harus ia kejar.
00:52:44Kasus baru,
00:52:46investigasi baru.
00:52:48Atau mungkin hanya potret kehidupan di pasar tradisional yang sedang sepi pembeli.
00:52:52Tapi sebelum semua itu,
00:52:54ia membuka dokumen kosong di laptopnya
00:52:56dan menulis satu kalimat pembuka yang telah lama ingin ia tulis.
00:52:59Ini bukan kisah hantu.
00:53:01Ini adalah kisah manusia yang tak pernah diajari cara menyembuhkan diri.
00:53:06Fira menyimpan file itu tanpa judul.
00:53:09Bukan karena ia ragu,
00:53:10tapi karena ia ingin memberinya ruang tumbuh.
00:53:13Biarkan cerita itu menemukan namanya sendiri seiring berjalannya waktu,
00:53:17sebagaimana dirinya dulu menemukan arah setelah melewati gelapnya kebingungan.
00:53:21Ia menyandarkan tubuh di kursi,
00:53:23memandang langit mendung dari jendela lantai delapan gedung redaksi.
00:53:27Di luar sana,
00:53:29Jakarta tetap sibuk.
00:53:30Klakson bersahutan,
00:53:32pejalan kaki bergegas dengan payung,
00:53:34dan hidup terus berlangsung seperti biasa.
00:53:37Tapi di kepala Fira,
00:53:38segala sesuatu terasa lebih hening,
00:53:40lebih lambat.
00:53:42Seolah dunia memberinya waktu untuk benar-benar bernapas.
00:53:46Di ruang kerja yang hanya diterangi lampu meja,
00:53:49ia menata papan gabus berisi potret-potret kecil,
00:53:51wajah Dino waktu TK,
00:53:53foto mereka bertiga saat ulang tahun ibu ke-40,
00:53:56dan gambar terakhir bersama sang ayah,
00:53:57tersenyum setengah hati di depan rumah lama yang kini telah dijual.
00:54:01Dino kini tinggal bersama ayah mereka di luar kota.
00:54:05Hubungan mereka membaik,
00:54:06meski belum sepenuhnya pulih.
00:54:09Setidaknya,
00:54:10Dino tak lagi mimpi buruk setiap malam.
00:54:12Ia mulai ikut ekstra kurikuler karate dan menulis puisi di blok sekolahnya.
00:54:17Fira kerap membacanya diam-diam,
00:54:19menahan senyum saat mendapati baik tentang seorang,
00:54:21ibu dengan senyum palsu dan tangan dingin seperti cermin.
00:54:25Mereka tak lagi menyebut nama sang ibu.
00:54:28Bukan karena benci,
00:54:29tapi karena butuh jeda.
00:54:31Butuh ruang untuk memproses dan menerima kenyataan
00:54:34bahwa cinta bisa membentuk dan sekaligus menghancurkan.
00:54:36Pagi itu,
00:54:38telepon redaksi berdering.
00:54:41Seorang narasumber dari Lampung mengaku punya cerita
00:54:43tentang pemakaman misterius di desanya.
00:54:46Tak ada yang berani menyelidiki,
00:54:48karena menyangkut sejarah keluarga penguasa setempat.
00:54:51Redaktur memanggil nama Fira.
00:54:54Kamu tertarik berangkat minggu depan?
00:54:56Tanya sang redaktur.
00:54:58Tapi ini bukan cerita horor ya.
00:55:00Lebih ke tanah sengketa dan trauma komunitas adat.
00:55:04Fira hanya menganggu pelan.
00:55:05Ia tahu,
00:55:07trauma tidak harus selalu datang dalam bentuk jeritan dan darah.
00:55:11Kadang,
00:55:12ia berwujud diam yang panjang,
00:55:13atau bisikan yang terus berulang dalam hati seseorang selama puluhan tahun.
00:55:17Dan seperti biasa,
00:55:19tugasnya bukan menakuti,
00:55:21tapi menerangi.
00:55:22Sebelum ia menutup laptopnya dan bersiap pulang,
00:55:25sebuah notifikasi email masuk.
00:55:27Dari lembaga jurnalisme internasional
00:55:29yang dulu ia ajukan proposal tentang dokumenter,
00:55:31dia bukan ibu.
00:55:34Judul emailnya singkat.
00:55:36UV being selected.
00:55:38Fira menahan nafas.
00:55:40Langit Jakarta masih mendung.
00:55:43Tapi di matanya,
00:55:44cahaya kecil mulai menyala lagi.
00:55:46Bukan dari langit,
00:55:48bukan dari lampu,
00:55:49tapi dari dalam dirinya sendiri.
00:55:52Dari rasa percaya bahwa setiap kisah,
00:55:54betapapun gelapnya,
00:55:56selalu punya pintu menuju terang.
00:55:58Dan sebagai jurnalis,
00:55:59tugasnya adalah membuka pintu-pintu itu,
00:56:03satu demi satu.
00:56:05Beberapa bulan kemudian,
00:56:06Fira berdiri di tengah auditorium kecil di Amsterdam.
00:56:10Di depannya,
00:56:11deretan kursi penuh dengan jurnalis dari berbagai negara,
00:56:14akademisi,
00:56:15dan penonton umum yang tertarik pada tema besar konferensi itu.
00:56:18Truth, Trauma,
00:56:19Entelling,
00:56:20Journalism in the Ague of Wands.
00:56:23Ia mengenakan blazer hitam sederhana,
00:56:26rambut disanggul rapi.
00:56:28Bukan untuk tampil formal,
00:56:29tapi karena gugup yang ingin ia samarkan.
00:56:32Di balik layar,
00:56:34dokumenter,
00:56:34dia bukan ibu,
00:56:35telah selesai diputar.
00:56:37Ruangan sempat hening sesaat.
00:56:40Beberapa mata terlihat merah,
00:56:42satu dua orang berdiri untuk memberi tepuk tangan.
00:56:45Tapi yang paling penting bagi Fira,
00:56:46tak satupun dari mereka bertanya apakah ini kisah horror.
00:56:50Mereka tahu ini kisah nyata.
00:56:52Ia berdiri di podium,
00:56:54menatap mikrofon,
00:56:55lalu memulai dengan suara pelan namun pasti.
00:56:58Di negeri saya,
00:56:59banyak luka disimpan di dalam rumah.
00:57:02Kami menyebutnya,
00:57:03urusan keluarga,
00:57:04dan menguncinya rapat.
00:57:07Tapi saya percaya,
00:57:08kisah yang dikurung terlalu lama akan mencari jalan keluar sendiri.
00:57:12Lewat mimpi,
00:57:13lewat kemarahan,
00:57:14atau lewat tubuh yang jatuh sakit.
00:57:17Ia bercerita tentang amel,
00:57:18tentang Dino,
00:57:20tentang bagaimana seorang anak kecil bisa menyimpan kesedihan yang tak pernah dia pahami,
00:57:24dan tentang bagaimana jurnalisme bukan hanya untuk membuka borok,
00:57:27tapi juga membantu menjahitnya kembali.
00:57:30Salah satu peserta bertanya,
00:57:31apakah Anda tidak takut dokumenter Anda disalahpahami
00:57:34sebagai eksotifikasi trauma atau komodifikasi penderitaan?
00:57:37Fira mengangguk,
00:57:39lalu menjawab pelan,
00:57:40ketakutan itu selalu ada.
00:57:42Tapi saya lebih takut jika suara mereka tidak pernah terdengar.
00:57:46Jika anak-anak yang mengalami kekerasan di rumah hanya dianggap bagian dari statistik,
00:57:50maka saya memilih risiko itu dengan penuh kesadaran.
00:57:55Usai sesi,
00:57:56beberapa peserta menghampirinya.
00:57:59Seorang jurnalis asal Kenya menyodorkan tangan.
00:58:02Kisahmu mengingatkanku pada adikku sendiri,
00:58:04katanya.
00:58:05Aku tak pernah berani menulis tentangnya.
00:58:09Malam harinya,
00:58:10Fira kembali ke hotel kecilnya di pinggiran kota.
00:58:14Ia duduk di tepi jendela,
00:58:15melihat kanal yang tenang di luar sana,
00:58:17lalu membuka laptopnya.
00:58:19Ada puluhan pesan masuk,
00:58:21dari penonton,
00:58:22dari jurnalis muda,
00:58:23dari keluarga yang merasa kisah mereka terselip di balik dokumenter itu.
00:58:27Tapi satu pesan membuatnya terdiam lama.
00:58:30Dari Dino
00:58:31Kak, aku nonton film kakak.
00:58:35Aku gak ngerti semua,
00:58:36tapi aku tahu.
00:58:38Kakak sayang sama ibu.
00:58:40Dan di bawahnya.
00:58:42Aku juga sayang kakak.
00:58:45Fira tersenyum.
00:58:46Tak ada pengakuan yang lebih tulus dari kalimat sederhana itu.
00:58:50Ia menutup laptop,
00:58:51lalu menatap langit malam Amsterdam yang dipenuhi bintang.
00:58:55Untuk pertama kalinya dalam waktu lama,
00:58:57ia tak merasa sendiri.
00:58:59Ia tak lagi hanya jurnalis yang mencari kisah.
00:59:02Ia adalah bagian dari kisah itu sendiri.
00:59:05Dan itu tidak membuatnya lemah,
00:59:07justru membuatnya lebih jujur.
00:59:09Karena dalam dunia yang penuh luka,
00:59:11kejujuran adalah bentuk keberanian paling nyata.
00:59:15Dua minggu sepulang dari Amsterdam,
00:59:17Fira kembali menginjakan kaki di tanah yang ia cintai.
00:59:20Panas,
00:59:21berdebu.
00:59:22Dan penuh kontras.
00:59:24Jakarta tetap macet,
00:59:26penuh suara klakson,
00:59:27dan teriakan penjual asongan di perempatan jalan.
00:59:29Tapi dibalik semua itu,
00:59:32ada sesuatu yang selalu membuatnya kembali.
00:59:34Rasa bahwa masih banyak kisah yang belum selesai ia dengar.
00:59:38Ia kembali ke rutinitas di redaksi,
00:59:40namun tak lagi sama.
00:59:42Kolega-koleganya kini melihatnya dengan sedikit lebih banyak hormat.
00:59:46Namanya sempat muncul di sebuah artikel majalah luar negeri,
00:59:49dan dokumenternya bahkan kini digunakan sebagai bahan diskusi di beberapa kampus psikologi dan hukum di Indonesia.
00:59:54Tapi semua itu tak menggoyahkan fokusnya,
00:59:58ia tetap ingin menjadi pendengar yang baik sebelum menjadi penulis yang lantang.
01:00:02Suatu sore,
01:00:03ia menerima panggilan dari nomor tak dikenal.
01:00:06Suara di seberang adalah seorang guru dari sebuah SMP di Cirebon.
01:00:10Dengan suara bergetar,
01:00:12guru itu menceritakan bahwa setelah menonton dokumen tervira,
01:00:15salah satu muridnya memberanikan diri bicara tentang perlakuan kasar yang ia alami di rumah.
01:00:20Kini sang anak dalam perlindungan LPA dan mulai menjalani konseling.
01:00:24Terima kasih, Mbak.
01:00:27Kami mungkin tidak bisa mengubah semuanya,
01:00:29tapi setidaknya kami tahu harus mulai dari mana.
01:00:33Fira menahan nafas.
01:00:35Ada jeda panjang sebelum ia menjawab.
01:00:38Terima kasih sudah percaya bukan pada saya,
01:00:40tapi pada suara anak itu.
01:00:43Beberapa hari kemudian,
01:00:44ia menerima undangan menjadi pembicara di salah satu forum kebijakan anak nasional.
01:00:49Kali ini,
01:00:50ia tidak membawa selideh atau statistik.
01:00:52Ia hanya membawa sepucuk surat yang pernah ditulis Amel,
01:00:56yang sudah ia laminating dan simpan dalam dompet.
01:00:59Di depan ruangan penuh pejabat,
01:01:01aktivis,
01:01:02dan aparat hukum,
01:01:03Fira berdiri dan membacakan surat itu.
01:01:05Tentang ketakutan seorang anak kecil,
01:01:07tentang rasa rindu yang tidak bisa diucapkan,
01:01:09dan tentang pengakuan bahwa suara ibu yang dulu ia puja,
01:01:12ternyata bukan milik ibu kandungnya.
01:01:15Ruangan sunyi.
01:01:15Tak ada yang menepuk tangan di akhir pembacaan.
01:01:20Tapi Fira tahu,
01:01:21banyak yang sedang diam-diam bergulat dengan batin mereka sendiri.
01:01:25Dan bagi Fira,
01:01:26itu lebih dari cukup.
01:01:28Setelah acara,
01:01:29seorang hakim perempuan mendekatinya.
01:01:32Dokumentermu menyentuh kami,
01:01:34bukan sebagai aparat,
01:01:35tapi sebagai manusia,
01:01:37katanya.
01:01:38Dan itu mengubah cara kami memandang laporan-laporan kekerasan rumah tangga.
01:01:42Malam itu,
01:01:44di kamar kecil apartemennya,
01:01:46Fira membuka arsip folder bernama,
01:01:47Cerita Yang Belum Selesai.
01:01:50Di dalamnya,
01:01:51ada puluhan draft yang belum rampung,
01:01:53rekaman wawancara yang belum disunting,
01:01:55dan pesan-pesan anonim dari perempuan-perempuan yang belum berani bicara.
01:01:59Ia sadar,
01:02:00tugasnya belum selesai.
01:02:02Karena di negeri ini,
01:02:03luka sering diwariskan secara diam-diam.
01:02:06Dan selama itu masih terjadi,
01:02:07ia akan tetap menulis.
01:02:10Tetap mendengar.
01:02:12Tetap menyuarakan.
01:02:14Tidak untuk menjadi terkenal,
01:02:15tapi agar mereka yang diam tahu bahwa mereka tidak sendirian.
01:02:19Bahwa ada satu orang di luar sana yang percaya,
01:02:22kisahmu layak didengar.
01:02:24Beberapa bulan setelah itu,
01:02:26Fira duduk di sebuah warung kecil di sudut kota Depok,
01:02:29berhadapan dengan seorang perempuan parubaya bernama Sulastri.
01:02:33Wajahnya keriput,
01:02:34kulitnya legam,
01:02:34tapi matanya menyimpan kepedihan yang tak bisa ditutupi.
01:02:38Sulastri bukan siapa-siapa dalam catatan publik.
01:02:42Ia tak viral,
01:02:43tak punya akum media sosial,
01:02:45dan tak pernah muncul di pemberitaan manapun.
01:02:47Tapi sore itu,
01:02:49Fira tahu bahwa kisah Sulastri mungkin akan jadi salah satu yang paling penting dalam hidupnya.
01:02:53Saya cuma buruh cuci,
01:02:55mbak,
01:02:56kata Sulastri sambil menatap kosong ke arah gelas teh manisnya.
01:02:59Tapi saya tahu rasa sakit.
01:03:02Anak saya,
01:03:02dia dulu korban kekerasan ayah tirinya.
01:03:05Saya pernah lapor,
01:03:07tapi malah ditertawakan polisi waktu itu.
01:03:09Fira mendengarkan,
01:03:11tak menyelah.
01:03:13Ia tahu,
01:03:14tak semua narasumber butuh pertanyaan.
01:03:17Kadang mereka hanya butuh telinga yang tidak menghakimi.
01:03:20Sulastri lalu menunjukkan selembar fotokopi surat visum lama yang sudah menguning.
01:03:25Di bagian bawahnya,
01:03:26tertulis,
01:03:27tidak cukup bukti untuk diproses hukum.
01:03:30Fira menggigit bibirnya.
01:03:31Ia sudah sering melihat dokumen seperti itu,
01:03:35tapi tetap saja,
01:03:36tiap kali membacanya,
01:03:38ada rasa marah yang sulit dikendalikan.
01:03:40Anak saya sekarang sudah nikah.
01:03:43Tapi trauma itu masih ada.
01:03:45Dia nggak pernah mau punya anak,
01:03:47lanjut Sulastri.
01:03:49Fira mencatat semuanya.
01:03:51Ia tahu,
01:03:52ini bukan kisah yang cocok untuk headline atau trending.
01:03:55Tapi ia juga tahu,
01:03:57cerita seperti ini adalah jantung dari semua narasi besar yang pernah ia angkat.
01:04:01Mereka yang tak dikenal,
01:04:03tak terdata,
01:04:04tak disebut dalam statistik,
01:04:05tapi hidup dalam bayang luka setiap hari.
01:04:08Keesokan harinya,
01:04:10Fira memutuskan menulis kembali.
01:04:12Tapi bukan artikel.
01:04:14Ia menulis surat panjang kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
01:04:19Ia lampirkan transkrip kisah Sulastri,
01:04:21surat visum yang gagal jadi bukti,
01:04:23dan nama-nama penegak hukum yang dulu menolak laporannya.
01:04:26Ia tak berharap balasan.
01:04:29Tapi dua minggu kemudian,
01:04:30surat itu dibaca dalam forum resmi kementerian.
01:04:34Beberapa pejabat menyebutnya sebagai,
01:04:36bukti bahwa sistem kita masih terlalu dingin terhadap penderitaan kecil.
01:04:41Dan dari sana,
01:04:42perlahan tapi pasti,
01:04:43sebuah tim kerja dibentuk.
01:04:46Isinya para profesional yang selama ini hanya duduk di balik meja birokrasi,
01:04:50kini diminta langsung turun mendengarkan kisah seperti milik Sulastri.
01:04:53Fira tak hadir dalam pembentukan tim itu.
01:04:55Ia memilih tetap di lapangan,
01:04:58di warung-warung kecil dan rumah-rumah kontrakan sempit,
01:05:01tempat kisah nyata selalu hidup,
01:05:02tanpa kamera,
01:05:03tanpa mikrofon.
01:05:05Satu hal yang terus ia bawa dalam setiap langkah,
01:05:08kepercayaan bahwa cerita tak harus besar untuk menjadi penting.
01:05:12Dan mungkin,
01:05:13memang disanalah kekuatan jurnalisme naratif sejati,
01:05:16bukan mengguncang dunia dengan teriakan,
01:05:18tapi mengubah satu persatu hati yang telah lama mematung.
01:05:20Beberapa minggu kemudian,
01:05:23Fira kembali menyusuri jalanan sempit perkampungan padat di utara Jakarta.
01:05:28Kamera digantungkan di leher,
01:05:29catatan kecil terselip di saku belakang,
01:05:31dan wajahnya menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.
01:05:35Namun matanya tetap tajam.
01:05:38Kali ini,
01:05:39ia tidak sedang mengejar nama besar atau kisah viral.
01:05:42Ia datang karena satu pesan suara anonim
01:05:44yang dikirim ke alamat email redaksi tempat ia bekerja.
01:05:47Kak Fira,
01:05:49tolong datang ke daerah kami.
01:05:51Ada seorang anak yang katanya bisa lihat hal-hal yang tak terlihat.
01:05:55Tapi bukan itu yang penting.
01:05:57Anak itu menyimpan cerita kematian ibunya yang janggal.
01:06:01Fira tak pernah abaikan pesan seperti itu.
01:06:04Ia tahu,
01:06:05dibalik fenomena mistis yang sering jadi lapisan luar,
01:06:07seringkali ada trauma sosial atau kekerasan
01:06:09yang disembunyikan dengan cara paling mudah,
01:06:11dikaitkan dengan yang gaib.
01:06:14Sesampainya di sana,
01:06:15ia bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama Dika.
01:06:19Usianya 9 tahun.
01:06:21Pendiam,
01:06:22selalu menunduk,
01:06:23dan matanya,
01:06:24seperti tidak berasal dari tubuh sekecil itu.
01:06:27Dika tidak banyak bicara,
01:06:29tapi malam harinya,
01:06:30ia menggambar di kertas dengan pensil warna.
01:06:33Dalam gambar itu,
01:06:34tanpa seorang perempuan tidur di lantai,
01:06:36mulutnya terbuka,
01:06:38dan di sekitarnya ada tiga orang dewasa yang semuanya bertubuh besar.
01:06:41Satu dari mereka membawa botol.
01:06:44Satu lainnya membawa kunci.
01:06:47Dan yang ketiga,
01:06:48wajahnya digambarkan tanpa mata.
01:06:51Tira tahu,
01:06:52itu bukan sekadar coretan anak kecil.
01:06:55Ia mulai bertanya ke tetangga,
01:06:57ke pengurus RT,
01:06:58hingga ke pemilik warung kecil di ujung gang.
01:07:01Semua jawabannya sama,
01:07:02ibu Dika meninggal karena serangan jantung.
01:07:05Tapi tak ada catatan medis.
01:07:08Tak ada visum.
01:07:10Bahkan jenazahnya pun dimakamkan dengan cepat
01:07:12hanya beberapa jam setelah dinyatakan meninggal.
01:07:15Dan yang paling membuat Vira curiga,
01:07:17tak ada satupun warga yang berani menjawab
01:07:18siapa yang terakhir berada di rumah Dika malam itu.
01:07:22Vira lalu menghubungi seorang rekannya,
01:07:24mantan psikolog anak yang kini bekerja
01:07:25sebagai relawan perlindungan perempuan.
01:07:27Ia meminta pendampingan untuk bicara lebih dalam dengan Dika.
01:07:32Hasilnya,
01:07:34Dika tidak hanya menyaksikan kematian ibunya,
01:07:36tapi diduga mengalami kekerasan psikis
01:07:38oleh orang-orang yang mengaku
01:07:39teman keluarga dan kini tinggal di rumah itu bersamanya.
01:07:43Pihak berwenang,
01:07:44seperti biasa,
01:07:45lamban.
01:07:47Tapi Vira sudah terbiasa dengan itu.
01:07:50Ia tahu kapan harus menunggu,
01:07:52dan kapan harus membuat bising.
01:07:54Ia menulis kisah Dika secara anonim
01:07:56dalam kolom mingguan di situs berita alternatif
01:07:58yang sering ia isi.
01:08:00Tak viral.
01:08:02Tapi cukup ramai untuk mendorong LSM turun ke lokasi
01:08:04dan mengevakuasi Dika dari rumah itu
01:08:06ke tempat perlindungan anak sementara.
01:08:09Ia bukan pahlawan.
01:08:11Tapi saat Vira melihat Dika tersenyum tipis
01:08:13untuk pertama kalinya,
01:08:14ia tahu,
01:08:15kisah yang nyari silang itu,
01:08:17berhasil diselamatkan.
01:08:19Dan seperti biasa,
01:08:20ia tak membawa pulang apapun
01:08:21kecuali catatan kecil yang penuh coretan
01:08:23dan satu kalimat di ujung halamannya.
01:08:26Cerita-cerita kecil ini,
01:08:27jika tidak disuarakan,
01:08:29akan lenyap seperti nafas terakhir
01:08:30dalam kamar yang terkunci.
01:08:33Tira kembali ke Jakarta,
01:08:34menyimpan semua catatan kasus
01:08:36Dika dalam satu map merah
01:08:37yang ialah beli dengan tulisan tangan,
01:08:39bukan ibu.
01:08:40Bukan rumah.
01:08:42Ia tahu,
01:08:43itu bukan akhir dari segalanya.
01:08:46Justru disanalah ia merasa
01:08:47sedang berdiri di persimpangan.
01:08:48Sebab dalam proses menyelidiki kasus Dika,
01:08:52Vira menemukan benang merah
01:08:54yang tak disangka.
01:08:56Nama salah satu pelaku kekerasan
01:08:57di rumah Dika ternyata
01:08:58pernah muncul dalam kasus lain,
01:09:00beberapa tahun silam,
01:09:01di kawasan Cirebon.
01:09:03Kasus yang,
01:09:04belum pernah terungkap ke publik.
01:09:07Keterlibatan pria tersebut
01:09:08dalam dua kasus berbeda
01:09:09mulai membuka lembar baru.
01:09:11Vira menghubungi seorang kenalannya
01:09:12di Cirebon,
01:09:13Jati,
01:09:14jurnalis investigasi senior
01:09:16yang pernah menulis laporan panjang
01:09:17tentang kematian
01:09:18seorang ibu rumah tangga
01:09:19di desa pinggir hutan.
01:09:21Kasus itu ditutup cepat,
01:09:23katanya karena tekanan keluarga.
01:09:25Tapi Jati menyimpan salinan
01:09:27laporan awal
01:09:27yang tak pernah dipublikasikan,
01:09:29dan yang mengejutkan,
01:09:30pola-pola dalam kasus itu identik,
01:09:32korban perempuan,
01:09:33kematian mendadak tanpa visum,
01:09:35dan anak yang trauma berat.
01:09:37Vira dan Jati memutuskan
01:09:38bertemu langsung
01:09:39di tengah perjalanan
01:09:40menuju desa tersebut.
01:09:43Mereka menyamar
01:09:43sebagai relawan sosial,
01:09:45bukan jurnalis.
01:09:46Di lapangan,
01:09:47mereka bertemu dengan
01:09:48satu-satunya saksi hidup
01:09:50dari peristiwa itu.
01:09:52Anak korban,
01:09:53seorang gadis remaja
01:09:54bernama Elin,
01:09:55yang kini tinggal bersama neneknya.
01:09:58Elin butuh waktu lama
01:09:59untuk bicara.
01:10:00Tapi ia mengingat semuanya,
01:10:02malam ketika ibunya
01:10:03tiba-tiba kesurupan,
01:10:04kemudian pingsan,
01:10:06lalu tak bangun lagi.
01:10:08Dan bagaimana setelah itu,
01:10:09rumah mereka didatangi
01:10:10oleh tiga pria,
01:10:11salah satunya adalah sosok
01:10:13yang pernah disebut Bika,
01:10:13yang datang membawa
01:10:15orang pintar,
01:10:16dan memaksa agar pemakaman
01:10:17dilakukan tanpa
01:10:18keterlibatan rumah sakit.
01:10:20Namun yang paling
01:10:21mengguncang Fira dan Jati
01:10:22adalah kalimat terakhir Elin
01:10:23saat mereka hendak pamit,
01:10:24mereka bilang ibuku
01:10:25bukan ibuku lagi.
01:10:27Bahwa ada yang
01:10:28sudah masuk ke tubuhnya.
01:10:30Jadi mereka harus
01:10:31mengeluarkannya,
01:10:32meski harus bikin
01:10:33tubuhnya berhenti nafas.
01:10:35Kalimat itu
01:10:36bukan hanya mencerminkan
01:10:37ketakutan kolektif
01:10:37terhadap hal-hal gaib,
01:10:39tapi juga dijadikan
01:10:40pembenaran atas
01:10:40praktik kekerasan
01:10:41terhadap perempuan.
01:10:43Seolah-olah
01:10:44jika seorang ibu
01:10:44berubah menjadi
01:10:45bukan dirinya lagi,
01:10:47maka tak apa
01:10:48jika dia dilukai,
01:10:49dikurung,
01:10:50bahkan dihilangkan.
01:10:52Fira mencatat semuanya.
01:10:54Dan semakin
01:10:55dalam ia menyelami,
01:10:56semakin ia sadar
01:10:57bahwa di balik cerita mistis,
01:10:59sering tersembunyi
01:10:59narasi sistemik
01:11:00tentang bagaimana perempuan,
01:11:02khususnya ibu,
01:11:03dapat kehilangan agensinya
01:11:04hanya karena dianggap
01:11:05tidak sesuai ekspektasi
01:11:06keluarga atau komunitas.
01:11:08Dalam banyak kasus,
01:11:10alasan spiritual
01:11:10hanyalah kabut
01:11:11yang menutupi
01:11:12kekerasan domestik
01:11:13yang berlangsung senyap.
01:11:15Dalam perjalanan pulang,
01:11:16Jati hanya bergumam lirih,
01:11:18kadang-kadang,
01:11:19setan bukan yang tak terlihat,
01:11:21tapi yang berdiri
01:11:22paling dekat.
01:11:24Fira diam.
01:11:25Ia tahu,
01:11:26laporan ini
01:11:27akan memakan waktu.
01:11:29Tapi ia juga tahu,
01:11:30cerita-cerita seperti ini
01:11:31harus terus diangkat,
01:11:33sebab di balik
01:11:33setiap anak yang berkata,
01:11:35dia bukan ibuku lagi,
01:11:36bisa jadi tersembunyi
01:11:37teriakan seorang perempuan
01:11:38yang tak pernah sempat terdengar.
01:11:40Penyelidikan Fira dan Jati
01:11:41tak berhenti di sana.
01:11:44Setelah kembali ke Jakarta,
01:11:46mereka menghabiskan
01:11:46berminggu-minggu
01:11:47menyisir data kasus lama
01:11:48yang terarsip
01:11:49di berbagai media lokal,
01:11:50catatan pengaduan
01:11:51lembaga bantuan hukum,
01:11:52hingga unggahan blok pribadi
01:11:54yang terlupakan.
01:11:56Polanya mulai terlihat,
01:11:57korban-korban perempuan,
01:11:58yang awalnya didiagnosis
01:12:00mengalami gangguan mental
01:12:01atau kerasukan,
01:12:02lalu berakhir
01:12:02dengan kematian misterius,
01:12:04dan dalam hampir semua kasus,
01:12:06ada satu figur laki-laki
01:12:07yang selalu muncul,
01:12:08baik sebagai orang pintar,
01:12:10pendamping keluarga,
01:12:11atau tetangga yang
01:12:12membantu
01:12:12menyelesaikan masalah
01:12:14spiritual keluarga tersebut.
01:12:16Satu nama akhirnya mengerucut,
01:12:18Gunawan,
01:12:19pria yang dikenal
01:12:19di sejumlah kampung
01:12:20sebagai ustaz
01:12:21sekaligus dukun pengusir jin.
01:12:23Pria itu ternyata
01:12:24memiliki jaringan luas,
01:12:26dan muncul dalam sedikitnya
01:12:27tujuh kasus berbeda
01:12:28dalam lima tahun terakhir.
01:12:29Anehnya,
01:12:31tak satupun dari kasus itu
01:12:32dilanjutkan kerana hukum.
01:12:34Alasannya beragam,
01:12:36keluarga yang menolak otopsi,
01:12:37tokoh masyarakat
01:12:38yang menyarankan damai,
01:12:40hingga korban yang
01:12:40tiba-tiba
01:12:41sembuh atau menghilang
01:12:42dari catatan publik.
01:12:44Namun ada satu kasus
01:12:45yang membuat
01:12:46Fira tercekat.
01:12:48Di tahun 2019,
01:12:50seorang perempuan
01:12:50bernama Sri Wahyuni
01:12:51ditemukan meninggal
01:12:52di dalam kamar terkunci
01:12:53di rumahnya sendiri,
01:12:54dengan luka lebam
01:12:55di beberapa bagian tubuh.
01:12:57Sang suami mengklaim
01:12:58misterinya kerasukan
01:12:59dan meninggal
01:12:59saat proses rukiah.
01:13:01Tidak ada visum,
01:13:03tidak ada penyelidikan lanjut.
01:13:05Dan Gunawan,
01:13:06saat itu,
01:13:07hadir sebagai
01:13:08pendamping spiritual.
01:13:10Dari dokumentasi foto
01:13:11yang disimpan
01:13:11seorang aktivis perempuan
01:13:13di daerah tersebut,
01:13:14Fira memperbesar
01:13:15wajah Sri Wahyuni.
01:13:17Garis matanya,
01:13:18hidungnya,
01:13:19bahkan senyum lebarnya,
01:13:20terasa begitu familiar.
01:13:23Ia membuka kembali
01:13:23foto-foto masa kecilnya,
01:13:25dan jantungnya
01:13:26serasa berhenti.
01:13:27Sri Wahyuni adalah
01:13:29nama ibu kandungnya.
01:13:31Wanita yang selama ini
01:13:32diakini meninggal
01:13:33karena kecelakaan
01:13:33saat Fira berumur 3 tahun.
01:13:36Seluruh dinding
01:13:37narasi masa kecilnya runtuh.
01:13:39Fira tak tahu
01:13:40apakah ibunya
01:13:40benar-benar meninggal
01:13:41seperti cerita ayahnya,
01:13:43atau apakah semua itu
01:13:44bagian dari kisah
01:13:44yang direkayasa.
01:13:47Ia menghubungi ayahnya,
01:13:48namun pria itu
01:13:49hanya berkata singkat,
01:13:50ada hal-hal yang lebih baik
01:13:51tidak diungkit,
01:13:52Fir.
01:13:53Tapi Fira bukan lagi
01:13:55gadis kecil
01:13:55yang bisa disuapi dongeng.
01:13:57Ia menelusuri akta
01:13:58kematian ibunya,
01:14:00dan mendapati bahwa
01:14:00surat kematian baru
01:14:01dibuat 4 hari
01:14:02setelah pemakaman,
01:14:03tanpa keterangan medis.
01:14:06Semuanya disahkan
01:14:06oleh satu nama,
01:14:08Gunawan.
01:14:09Kini narasi penyelidikannya
01:14:10berubah menjadi personal.
01:14:13Ini bukan lagi
01:14:14sekadar laporan investigasi.
01:14:16Ini tentang membongkar
01:14:17kebenaran yang telah
01:14:18lama dikubur,
01:14:19bukan hanya untuk
01:14:19korban-korban yang ia temui
01:14:21di sepanjang perjalanan,
01:14:22tapi juga untuk dirinya sendiri.
01:14:24Untuk ibunya yang mungkin
01:14:26selama ini tak pernah
01:14:27mendapatkan keadilan.
01:14:29Untuk anak-anak lain
01:14:30yang tumbuh dengan trauma
01:14:31dan kebingungan,
01:14:32seperti dirinya dulu.
01:14:34Dan untuk semua perempuan
01:14:35yang pernah disebut,
01:14:36bukan dirinya lagi.
01:14:37Hanya karena mereka
01:14:38tak lagi patuh,
01:14:39lembut,
01:14:40atau pasrah.
01:14:41Fira tak lagi menulis
01:14:42laporan seperti sebelumnya.
01:14:45Ia menulis dengan
01:14:45amarah yang jernih,
01:14:47bukan ledakan.
01:14:47Kata-katanya menggigit,
01:14:50tetapi tenang.
01:14:52Ia tahu,
01:14:53tulisan ini bukan
01:14:54hanya akan dibaca,
01:14:55tapi bisa mengancam
01:14:56banyak pihak.
01:14:58Sebelum menerbitkan
01:14:59apapun,
01:15:00ia meminta perlindungan
01:15:01hukum pada lembaga
01:15:02tempat ia pernah magang.
01:15:04Salah satu mentor
01:15:05jurnalismenya memperingatkan,
01:15:07kalau kau buka ini,
01:15:08Fira,
01:15:09kamu harus siap.
01:15:11Kebenaran tak selalu
01:15:12membebaskan.
01:15:14Kadang,
01:15:14ia juga membunuh.
01:15:15Namun Fira tetap melangkah.
01:15:19Ia kembali ke kampung
01:15:20tempat Sri Wahyuni
01:15:21terakhir tinggal.
01:15:23Menyamar sebagai
01:15:23mahasiswi riset antropologi,
01:15:25ia mewawancarai
01:15:26para tetangga
01:15:27dan tokoh masyarakat.
01:15:29Perlahan,
01:15:29kisah itu membentuk
01:15:30gambaran lebih utuh.
01:15:32Sri Wahyuni
01:15:33dikenal sebagai
01:15:33perempuan kuat dan cerdas,
01:15:35seringkali berbeda
01:15:36pendapat dengan suaminya,
01:15:37terutama soal
01:15:38pendidikan anak
01:15:39dan soal warisan.
01:15:41Beberapa tetangga
01:15:41menyebutkan bahwa
01:15:42Wahyuni sering mengeluh
01:15:43merasa diawasi,
01:15:44bahkan dibuntuti.
01:15:47Ia sempat ingin pergi
01:15:47membawa anaknya,
01:15:49Fira,
01:15:49jauh dari sana.
01:15:51Tapi kemudian,
01:15:53ia
01:15:53kerasukan.
01:15:55Tiba-tiba berubah
01:15:56menjadi diam,
01:15:57menangis di malam hari,
01:15:58dan tak mau bicara
01:15:59pada siapapun.
01:16:01Yang mencurigakan,
01:16:02setelah
01:16:03dirukiah
01:16:03oleh Gunawan,
01:16:05ia justru meninggal.
01:16:07Dan keesokan harinya,
01:16:08Fira dibawa pergi
01:16:09oleh ayahnya ke Jakarta.
01:16:12Tak pernah kembali.
01:16:13Di satu malam yang dingin
01:16:15dan basah oleh Gerinis,
01:16:16seorang perempuan tua
01:16:17bernama Mbok Darmi,
01:16:18yang dulu bekerja
01:16:19sebagai pembantu
01:16:20di rumah Wahyuni,
01:16:21datang diam diam
01:16:22menemui Fira.
01:16:23Dengan suara gemetar,
01:16:25ia menyerahkan
01:16:25sebuah bros kecil
01:16:26berbentuk bulan sabit.
01:16:28Ini milik ibumu.
01:16:30Diselipkan
01:16:31di balik sarung bantal.
01:16:33Saya simpan selama ini,
01:16:35karena takut.
01:16:36Tapi kamu anaknya.
01:16:38Sekarang sudah waktunya.
01:16:41Bros itu bukan
01:16:41barang berharga.
01:16:43Tapi Fira mengenalnya.
01:16:45Itu bros yang selalu
01:16:46dipakai ibunya
01:16:47dalam foto keluarga
01:16:48yang satu-satunya
01:16:49masih tersisa.
01:16:50Entah kenapa,
01:16:52memegang benda itu
01:16:52membuat Fira
01:16:53seperti kembali terhubung.
01:16:55Ia tak hanya menemukan
01:16:56kembali fragment ibunya,
01:16:58tapi juga menemukan
01:16:58kekuatan yang telah lama
01:17:00terpendam.
01:17:01Di hari terakhir
01:17:02di kampung itu,
01:17:03Fira berdiri di depan rumah
01:17:04yang dulunya milik ibunya.
01:17:06Kini kosong dan lapuk.
01:17:09Ia menatap dinding-dinding
01:17:10yang dulu menyimpan tawa dan tangis,
01:17:12lalu mengeluarkan kamera kecilnya.
01:17:14Aku akan merekam ini,
01:17:16bisiknya pelan.
01:17:18Aku akan bawa semua ini keluar.
01:17:20Tidak ada lagi yang diam
01:17:21karena takut.
01:17:23Perjuangan Fira
01:17:24bukan soal balas dendam.
01:17:26Tapi tentang membuka mata mereka
01:17:27yang selama ini
01:17:28memilih menutupnya.
01:17:30Tentang mengakhiri siklus diam,
01:17:32tunduk,
01:17:33dan pasrah yang diwariskan
01:17:34turun-temurun.
01:17:36Dan ketika videonya
01:17:36akhirnya diunggah,
01:17:37dengan judul sederhana,
01:17:39dia bukan ibu.
01:17:40Ribuan komentar membanjiri
01:17:41sebagian besar dari perempuan.
01:17:45Banyak yang mengaku
01:17:46mengalami hal serupa.
01:17:48Dibelenggu oleh narasi
01:17:49yang bukan milik mereka sendiri.
01:17:51Dituduh gila.
01:17:53Dituduh durhaka.
01:17:55Dituduh kerasukan.
01:17:57Namun kali ini,
01:17:58mereka punya suara.
01:18:00Dan Fira
01:18:01telah menyalakan apinya.
01:18:04Langit pagi menyemburat kelabu.
01:18:05Di dalam rumah itu,
01:18:07aroma dupa masih menggantung samar di udara,
01:18:10bercampur dengan bau sangit
01:18:11dari kabel yang sempat terbakar semalam.
01:18:14Fira berdiri di ambang pintu ruang tengah,
01:18:16tempat ibunya.
01:18:18Atau makhluk yang selama ini
01:18:19menyamar sebagai ibunya,
01:18:21telah ditundukan.
01:18:23Ia menatap abu
01:18:24dan sisa-sisa pecahan kaca salon.
01:18:27Seolah hendak memaknai ulang
01:18:28setiap potongan hidup
01:18:29yang baru saja tercerabut
01:18:30dari jantungnya.
01:18:32Dino masih tertidur di pelukannya,
01:18:33tubuh kecil itu kelelahan
01:18:35setelah histeria panjang
01:18:36dan rasa takut
01:18:37yang tak lagi bisa dijelaskan dengan kata.
01:18:40Fira membelai rambut adiknya,
01:18:41mencoba menenangkan sesuatu
01:18:42yang jauh lebih dalam
01:18:43dari sekadar trauma,
01:18:45rasa kehilangan
01:18:46yang tak punya bentuk pasti.
01:18:48Karena yang mereka hadapi
01:18:49bukan hanya kehilangan ibu,
01:18:50melainkan kehilangan rasa aman,
01:18:52kehilangan kepercayaan,
01:18:54kehilangan keutuhan sebuah rumah.
01:18:56Petugas kepolisian datang pagi itu,
01:18:58setelah panggilan darurat
01:18:59yang akhirnya berhasil dilakukan oleh Fira.
01:19:01Laporan mereka terdengar
01:19:03seperti naskah dongeng
01:19:04yang disusun dengan ketegangan luar biasa.
01:19:06Ibu berubah perilaku,
01:19:08terdengar suara-suara aneh,
01:19:09ada darah,
01:19:10ada pengorbanan,
01:19:11ada sosok asing.
01:19:13Tapi yang mereka bawa
01:19:14hanya bukti nyata
01:19:15dari kejadian-kejadian
01:19:16yang bisa dijelaskan
01:19:17oleh logika dan ilmu forensik.
01:19:20Sidik jari di seluruh rumah,
01:19:22sisa darah,
01:19:23rekaman suara ritual
01:19:24dari ponsel Fira
01:19:24yang sempat menyala
01:19:25ketika semuanya berlangsung.
01:19:28Namun tidak ada satupun
01:19:29dari semua itu
01:19:29yang benar-benar dapat menjelaskan
01:19:31rasa hampa
01:19:31yang kini menggantung
01:19:32di rumah kecil itu.
01:19:34Tidak ada satu laporan medis
01:19:35atau berita media lokal
01:19:36yang bisa merangkum
01:19:37bagaimana anak-anak itu
01:19:38tumbuh dengan bayang-bayang
01:19:39bahwa orang yang mereka panggil ibu,
01:19:41bukan lagi ibu mereka.
01:19:43Dari luar,
01:19:44warga sekitar hanya tahu
01:19:45bahwa salon milik ibu Fira
01:19:46ditutup mendada
01:19:47karena ada
01:19:47gangguan kejiwaan.
01:19:49Beberapa bahkan mulai bergosip
01:19:51bahwa sang ibu kerasukan
01:19:52atau terlalu terobsesi
01:19:54dengan kecantikan.
01:19:56Tapi kebenaran tetap terkubur
01:19:57dalam ingatan Fira dan Dino,
01:19:59kebenaran yang terlalu
01:20:00menyeramkan untuk dibagikan
01:20:01dan terlalu menyakitkan
01:20:03untuk diabaikan.
01:20:04Di sekolah,
01:20:05Fira kembali duduk
01:20:06di bangku kelas seperti biasa.
01:20:09Ia tampak seperti gadis
01:20:10remaja lainnya,
01:20:11rambut panjang di kunci rapi,
01:20:13seragam bersih,
01:20:14wajah datar.
01:20:16Tapi ada sesuatu
01:20:17dalam sorot matanya
01:20:18yang membuat siapapun
01:20:19yang menatapnya
01:20:19lebih lama merasa
01:20:20sedang menatap seseorang
01:20:21yang pernah berjalan
01:20:22melewati lorong tergelap kehidupan.
01:20:25Guru BK pernah menanyakan
01:20:26apakah ia ingin berbicara,
01:20:27tapi Fira hanya menggeleng.
01:20:30Karena ia tahu,
01:20:31tidak ada satupun kata
01:20:32yang bisa merangkum
01:20:32bahwa ibunya pernah digantikan
01:20:34oleh sesuatu
01:20:34yang bukan manusia.
01:20:36Tidak ada terapi
01:20:37yang bisa menyembuhkan
01:20:38rasa bersalah
01:20:39karena di malam terakhir,
01:20:40ia sempat meragukan
01:20:41kasih ibu yang selama ini
01:20:42mengalir dalam darahnya sendiri.
01:20:44Sementara itu,
01:20:46Dino perlahan mulai
01:20:46bisa tertawa lagi.
01:20:48Anak-anak memang
01:20:49punya cara ajaib
01:20:50dalam menyembuhkan
01:20:50dirinya sendiri,
01:20:51meski luka batin itu
01:20:52akan tetap menetap
01:20:53seperti bekas luka
01:20:54di kulit yang sempat terbakar,
01:20:56memudar,
01:20:56tapi tak pernah hilang.
01:20:58Waktu berjalan.
01:21:00Salon itu
01:21:01kini telah berganti
01:21:02ke pemilikan.
01:21:04Dicat putih bersih,
01:21:05dengan pelang nama baru
01:21:06yang modern
01:21:06dan wangi sabun cuci tangan
01:21:07yang menyambut
01:21:08siapapun yang masuk.
01:21:10Tapi di malam-malam tertentu,
01:21:12warga masih mengatakan
01:21:13mereka mendengar
01:21:14suara nyanyian jawa kuno
01:21:15yang samar mengalun
01:21:16dari balik dinding.
01:21:18Seperti ratapan,
01:21:19atau mungkin
01:21:20sebuah peringatan.
01:21:22Di kamarnya,
01:21:23Vira menyimpan
01:21:23satu benda yang selalu
01:21:24ia kunci di dalam
01:21:25laci terkunci,
01:21:26sisir perak warisan ibunya.
01:21:29Tidak ada yang tahu
01:21:29kenapa ia masih
01:21:30menyimpannya.
01:21:32Entah sebagai kenangan,
01:21:33atau mungkin
01:21:34sebagai pengingat
01:21:34bahwa cinta seorang ibu
01:21:36bisa menjadi berkah
01:21:36paling suci,
01:21:37atau kutukan
01:21:38paling mengerikan,
01:21:39ketika cinta itu
01:21:40dicuri oleh sesuatu
01:21:41yang bukan manusia.
01:21:42Kisah pun berhenti di sini.
01:21:45Tapi trauma,
01:21:46kenangan,
01:21:47dan luka
01:21:48akan terus hidup
01:21:49dibalik kehidupan mereka
01:21:50yang bertahan.
01:21:51Karena bagi Vira dan Dino,
01:21:53satu kebenaran
01:21:54akan selamanya
01:21:54mengisi relum jiwa mereka.
01:21:57Dia bukan ibu.
Jadilah yang pertama berkomentar